Pernah Tercatat 6 Kali, Ini Riwayat Erupsi Gunung Ciremai yang Jarang Diketahui
Merdeka.com - Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Barat. Gunung yang identik dengan Kabupaten Kuningan ini juga dikenal eksotis, sehingga kerap dijadikan salah satu tujuan dari para pendaki gunung di Indonesia.
Kendati saat ini dikenal aman, ternyata gunung bertipe Stratovolcano ini memiliki riwayat erupsi hingga enam kali dengan rentang waktu terpendek selama tiga tahun.
Dalam sejarahnya, gunung berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut itu konon pernah menciptakan tsunami di pantai Cirebon hingga memakan korban manusia pada abad ke-5 masehi lalu.
Lantas seperti apa jejak erupsi Gunung Ciremai dari masa ke masa? Berikut ulasan yang telah dirangkum merdeka.com.
Erupsi Tahun 1698 Pernah Sebabkan Tsunami di Cirebon

Gambar kawah Gunung Ciremai
©2020 Jurnal Biologi Indonesia Indyo Pratomo/editorial Merdeka.com
Mengutip dari Jurnal Biologi Indonesia “Kegiatan Gunungapi Ciremai Jawa Barat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan di Sekitarnya” oleh Indyo Pratomo tahun 2008 lalu, Gunung Ciremai disebut pernah erupsi dengan skala cukup besar hingga menimbulkan Tsunami di pantai Cirebon.
Hal tersebut mengacu pada laporan dari ahli kehutanan Belanda bernama Engelbert Hendrik Berend Brascamp di tahun 1919 yang menuliskan jika erupsi di abad ke-5 tersebut telah menimbulkan hancurnya sebagian dinding gunung hingga mengenai pantai di pesisir Utara dan menimbulkan gelombang yang memakan korban manusia.
“Gunung di Cirebon telah roboh yang mengakibatkan air begitu tinggi, hingga merusak tanah daerahnya dan menyebabkan korban manusia,” kata Brascamp, dalam catatan jurnalnya.
Namun laporan tersebut sempat dibantah oleh peneliti gunung api bernama Neuman van Padang, lewat catatanya di Catalogue of the active volcanoes of the World Including Solfatara Fields,v.1 Indonesia p. 138 -139. Di situ Van Padang meragukan temuan dari Brasscamp lantaran tidak ada bukti otentik.
Letusan di Kawah Pusat Pada Periode Tahun 1772, 1805, 1917 dan 1924
Letusan periode berikutnya disebutkan hanya terjadi di wilayah kawah pusat. Letusan pertama terjadi pada 11 hingga 12 Agustus 1772. Menurut catatan dari Junghun 1853; 1845 dan Taverne, tahun 1926 erupsi ini tidak termasuk kategori yang parah karena hanya berada di dalam kungkungan gunung.
Namun dari aktivitas belerang di sana menimbulkan sebuah efek lubang besar dari asap Fumarol dan tekanan Solfatara yang kini dinamakan sebagai Goa Walet.
"Hembusan uap belerang dari dinding selatan. Keluar asap Fumarol secara kuat sehingga menciptakan lubang besar yang dinamakan Goa Walet", tulis Van Gils (1917) dan Van Padang (1937) di bukunya.
Letusan Freaktik di Tahun 1937 hingga 1951
Tak berselang lama dari letusan di pusat kawah, Gunung Ciremai pun kembali menunjukkan tanda tanda aktifnya dengan kembali erupsi. Namun letusan tersebut intensitasnya tak jauh berbeda hanya bersifat freaktik (secara tiba-tiba dan berintensitas kecil)
Namun dikatakan di infografis yang buat oleh Facebook Gunung Ciremai, pada fase freaktik ini menampakkan menimbulkan kerusakan rumah warga dari embusan abu vulkanik dari letusan di pusat kawah.
“Letusan berlanjut dari kawah pusat, letusan abu,” tulis Van Padang, 1937; 1951; Stehn, 1940; dan Kusumadinata, 1971.
(mdk/nrd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya