Merawat Tradisi Nyate Iduladha di Garut, Pakai Arang Kayu Petai yang Beraroma Khas
Merdeka.com - Tradisi membakar satai (nyate) daging hewan kurban selalu jadi momen istimewa, termasuk bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Bahkan warga Kota Dodol kerap menggunakan bahan unik untuk merawat tradisi lawas tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan arang dari kayu jenis petai.
"Kalau untuk memasak lebih memilih gas elpiji, kalau untuk nyate jelas masih pakai arang, (kayu petai)" ujar Nanang (25), salah seorang pedagang arang bakar di pasar Induk Ciawitali, Garut seperti dilansir dari Liputan6.
Ia mengatakan, menjelang Hari Raya Iduladha kemarin penjualan arang petai miliknya mengalami peningkatan pesat dibanding hari-hari biasa.
Memiliki Aroma Khas
Nanang mengatakan, arang dari kayu petai atau selong memiliki beberapa keistimewaan, salah satunya meningkatkan aroma khas dari daging kambing maupun sapi yang tengah dibakar.
“Kalau pun ada (pemesanan) biasanya dipakai para penjual sate dan acara hajatan, selainnya untuk kebutuhan pesta tapi masih jarang. (arang petai) biasanya berpengaruh juga terhadap daging sate yang dihasilkan," kata dia.
Ia mengaku telah menjual sekitar 3.500 buah arang bakar dalam kemasan kecil siap pakai dalam menyambut hari raya Iduladha.
"Kenaikan bisa dua kali lipat, biasanya kami menjual dalam kemasan kecil seharga Rp1.000 rupiah per buah," kata dia.
Disukai Masyarakat Garut
Tingginya penjualan arang petai tersebut merupakan salah satu upaya merawat tradisi nyate oleh warga Garut, khususnya di momen Iduladha.
Para pembeli mengaku lebih menyukai arang petai untuk membakar daging karena membuat daging cepat matang.
"Jenis arang kayu memang banyak, tapi saya lebih cocok menggunakan jenis kayu petai ini," ujar Ahmad, salah seorang pembeli arang petai.
Merawat Tradisi Nyate Kurban di Kabupaten Garut

Tradisi nyate pakai arang petai di Garut
©2021 Liputan6/Merdeka.com
Sementara soal sumber arang kayu yang biasa ia jual, Ahmad mengungkapkan mayoritas berasal dari wilayah perkebunan Margawati, Cilawu, di wilayah perbatasan Garut dengan Tasikmalaya.
Untuk partai besar, biasanya para penjual arang kayu petai bisa menjajakan dagangannya dengan cara ngecer (ritel) seharga Rp5 ribu berisi lima buah. Untuk borongan pembeli bisa mendapatkan arangnya dengan merogoh kocek sebesar Rp3 ribu per kilogram.
Ahmad mengatakan, tradisi nyate dengan menggunakan arang petai akan membuat rasa daging menjadi lebih gurih dan mampu mempererat tali persaudaraan.
"Selain menghasilkan satai yang gurih, tradisi nyate juga bisa saling merekatkan silaturahmi antar keluarga dan warga," pungkasnya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya