Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Ubrug, Teater Rakyat Khas Banten yang Unik dan Kerap 'Berpindah Tempat'

Mengenal Ubrug, Teater Rakyat Khas Banten yang Unik dan Kerap 'Berpindah Tempat' Kesenian Ubrug Banten. ©2020 Kanal Youtube Micromedia Project/Editorial Merdeka.com

Merdeka.com - Provinsi Banten tak hanya dikenal sebagai daerah dengan tradisi debusnya saja. Salah satu tradisi khas Banten yang jarang diketahui adalah Ubrug. Yaitu kesenian teater rakyat yang masih bertahan di tengah gerusan zaman.

Kesenian yang juga mirip dengan kabaret tersebut biasa dipentaskan oleh masyarakat untuk memeriahkan hajatan besar. Salah seorang budayawan, Tisna Sopandi menyebut jika Ubrug sudah ada sejak 1918.

“Biasanya menggunakan nama-nama unik seperti Ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi)," kata Tisna dikutip dari sultantv.co.

Sejarah Ubrug

kesenian ubrug banten

©2020 Kanal Youtube Abah Yadi Klinik Pusaka/Editorial Merdeka.com

Dalam sejarahnya, Ubrug diketahui sangat dekat dengan kehidupan masyarakat petani di Banten. Kala itu, banyak petani yang merasa lelah setelah bercocok tanam terutama saat panen. Untuk mengobati hal tersebut, mereka membuat pertunjukan sederhana dari jerami sisa panen.

Mereka juga memanfaatkan gubug di tengah sawah untuk menampilkan lelakon yang diiringi waditra, atau alat musik karawitan Sunda. Alat musik itu terdiri dari kendang besar dan kecil (kulanter), gong kempul, dan serta didukung ububan (bambu kecil).

“Pada awal mulanya, Ubrug kerap dijadikan sebagai kompensasi dari para petani di sawah serta ladang saat masa panen,” dikutip dari Buku Pekan Teater Tradisional terbitan Pembinaan Kesenian Depdikbud.

Tanpa Diatur Sutradara dan Skenario

Sementara itu, dalam pementasannya, para pemain dituntut berimprovisasi tanpa menghafalkan naskah. Mereka akan mementaskannya secara spontan melalui satu tema khusus yang diberikan sutradara.

“Pemain hanya diarahkan masalah tema dan garis besar isi cerita oleh pimpinan Ubrug, hal itu lah yang merujuk ke istilah “ubrug” yang berarti saubrug-ubrug, sagebrugan, dan sagebrugna. Dalam bahasa Sunda istilah tersebut berarti bertumpuk-tumpuk dan tidak teratur. Hal tersebut sesuai dengan isi cerita atau lawakan yang ditampilkan secara spontan, tanpa sutradara,” tambah keterangan dari buku tersebut.

Dalam pementasannya, teater Ubrug juga kerap didukung dengan beberapa ritual khusus, salah satunya ngukus. Ngukus merupakan alur yang harus dilakukan agar pementasan bisa berjalan lancar.

"Ritual yang berisi doa keselamatan ini dilakukan sebelum pementasan, biasanya sesudah alat musik sudah dinaikkan ke panggung. Ngukus dijalankan dengan membakar kemenyan di antara dua alat musik Gong. ’Sesajen’nya berupa beras, bekakak ayam, kopi pahit dll. Pelaku atau kuncen dalam ritual ini adalah orang yang dituakan dalam grup tersebut," katanya.

Keunikan Teater Ubrug

kesenian ubrug banten

©2020 Kanal Youtube Micromedia Project/Editorial Merdeka.com

Biasanya dalam setiap pertunjukan, selalu ada pemisah antara pemain dengan penonton, tapi tidak dengan Ubrug.

Mengutip dari ilmuseni.com, para pengisi Ubrug seperti pemain, nayaga, pemusik hingga penonton akan bertumpuk di satu tempat yang sama.

Selain itu, masyarakat Sunda di Banten juga kerap mengartikan Ubrug sebagai kesenian yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sehingga warga Banten kerap menyebut pertunjukan tersebut dengan istilah Pemain Ubrug, yang artinya pelakon yang tinggal di tempat darurat dan kerap berpindah lokasi pementasan.

Saat ini, hanya tersisa beberapa grup pementasan Ubrug yang masih bersedia untuk ditanggap saat pementasan. Salah satunya, Grup Cantel dari Kampung Prisen, Dusun Kiara, Kec Walantaka, Kota Serang.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP