Mengenal Bekasem, Olahan Ikan di Dalam Gentong Ala Keraton di Cirebon

Bekasem terus dilestarikan selama bertahun-tahun, dan menjadi salah satu sajian menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Cirebon.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Mengenal Bekasem, Olahan Ikan di Dalam Gentong Ala Keraton di Cirebon
Mengenal Bekasem, Olahan Ikan di Dalam Gentong Ala Keraton di Cirebon (Merdeka.com)

Keraton di wilayah Cirebon, Jawa Barat, memiliki tradisi mengolah makanan secara tradisional yang hasilnya biasa disebut bekasem.

Ini adalah olahan ikan yang diawetkan menggunakan media gentong.

Bekasem terus dilestarikan selama bertahun-tahun, dan menjadi salah satu acara untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW di Cirebon. 

Mengawetkan Ikan di Dalam Gentong
Dok. Istimewa

Mengutip Liputan6, bekaseman atau bekasem, mulanya dilakukan dengan cara mencampurkan rempah berupa garam, gula merah, dan nasi putih.

Beberapa jenis ikan yang biasa digunakan untuk bekasem ini antara lain kakap, tenggiri, tongkol, dan ikan berukuran besar lainnya.

Sebelum diawetkan, ikan harus dicuci terlebih dahulu hingga bersih dan langsung dimasukkan ke dalam gentong.

Terakhir, ikan ditaburi campuran garam, gula merah, dan nasi sebagai pemicu fermentasi.

Menurut abdi dalem, proses pengawetan ikan ini berlangsung selama kurang lebih dua bulan di ruangan Pungkuran Dalem Arum Keraton Kasepuhan.

Gentongnya pun tidak bisa sembarangan, dan hanya bisa menggunakan gentong peninggalan istri Sunan Gunung Jati, yakni Putri Ong Tien Nio dari daratan China.

Setelah masa fermentasi berakhir, gentong yang dikedapkan menggunakan kertas tebal yang sudah diberikan abu gosok itu dibuka dan aroma khas ikan langsung menyeruak ke luar. 

Ikan Dibersihkan dan Dikeringkan
Dok. Istimewa

Setelah dibuka, ikan tidak bisa langsung dihidangkan dan harus dicuci terlebih dahulu lalu dikeringkan selama satu minggu di bawah terik matahari.

Proses ini juga untuk menghilangkan kandungan air dari proses pengawetan tersebut.

Penjemuran ini merupakan cara agar rasa khas ikannya tetap terjaga saat diolah dan disantap di peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Setelah seluruh proses pengawetan selesai, ikan-ikan diolah menjadi ragam masakan, dan disajikan bersama nasi jimat.

Nasi ini sepintas mirip nasi kebuli dengan proses memasak khusus.

Hasil olahan makanan dari bekasem ikan ini kemudian dibagikan kepada masyarakat setelah dihidangkan secara massal.

Proses awal bekaseman dilangsungkan pada tanggal 5 Safar dan dibuka tanggal 5 bulan Mulud.

Konon hidangan ini merupakan kesukaan dari para Wali Songo, karena mengandung ikan laut dan jadi sajian utama upacara panjang jimat.

Tradisi Panjang Jimat
Dok. Istimewa

Sementara itu, acara Panjang Jimat sendiri merupakan bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di setiap pelaksanaannya, seluruh masyarakat se-Cirebon tumpah ruah di tiga keraton yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Cirebon.
Gambar: Liputan6

Acara panjang jimat ditandai dengan dibunyikannya sembilan lonceng bernama Gajah Mungkur di depan gerbang keraton.

Setelahnya, para petinggi keraton keluar dari dalam bangunan dan melakukan sungkeman sebagai simbol istikamah.

Kemudian acara dilanjutkan dengan iring-iringan keluarga besar keraton menuju masjid. Di masjid acara dilakukan dengan pembacaan riwayat Nabi, barjanji, kalimat Thoyyibah, sholawat Nabi dan terakhir berdoa bersama sebelum menyantap nasi jimat.

Rekomendasi