Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Mak Eroh, Wanita 'Pembelah' Gunung Asal Tasik Demi Alirkan Air ke Kampung

Mengenal Mak Eroh, Wanita 'Pembelah' Gunung Asal Tasik Demi Alirkan Air ke Kampung Mak Eroh. ©2022 Liputan6/Merdeka.com

Merdeka.com - Mak Eroh menjadi sosok yang patut diteladani. Pasalnya ia rela membelah cadasnya bebatuan di pegunungan Galunggung, Tasikmalaya demi mengalirkan air ke perkampungannya. Tindakan ini dilakukannya pada tahun 1987 silam, ketika desanya mengalami kekeringan usai terjadi bencana erupsi gunung.

Saat memangkas tebing, usianya sudah tak lagi muda yakni 45 tahun. Namun berbekal semangat yang kuat, ia akhirnya mampu menyelesaikan jalur masuknya air ke perkampungan warga.

Jerih payah Mak Eroh tersebut rupanya sampai ke telinga Presiden Soeharto, hingga sosok 'perempuan besi' itu diganjar penghargaan Kalpataru pada tahun 1988. Bahkan pada tahun 1989, Mak Eroh kembali mendapat penghargaan lingkungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Buat Saluran Air Sejauh hampir 5 Kilometer

mak eroh

Mak Eroh

©2022 Instagram jabar Quick Response/Merdeka.com

Usai terjadi erupsi gunung Galunggung, kegiatan pertanian warga di Kampung Pasikadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong memang sempat terhenti. Hal itu disebabkan oleh tumpukan material pasir hingga abu vulkanik yang menimbun di sejumlah aliran sungai.

Keadaan ini membuat Mak Eroh resah, hingga dirinya nekat membelah lereng bukit untuk membuat jalur air ke pertanian di sekitar tempat tinggalnya. Tak main-main, jalur yang ia buat memiliki panjang hingga lima kilometer.

Keberanian Mak Eroh sebenarnya didasari oleh penemuan sumber mata air di tengah hutan saat dirinya tengah pencari jamur untuk dijual.

Mak Eroh kerap melewati berbagai jalur alas, hingga menemukan sumber air yang ketika itu tidak tertutup material letusan. Dirinya yakin jika sumber air tersebut mampu mengaliri sawah yang tengah kekeringan.

Pakai Pacul, Linggis dan Tali Bambu

Mak Eroh diketahui mengikis bebatuan serta tanah dengan alat pacul dan linggis. Kemudian ia juga menggunakan tali areuy (tali sejenis rotan), untuk menopang tubuhnya bergelantungan menggarap lereng yang terjal dan berbatasan dengan jurang itu.

Pembuatan jalur dilakukan Mak Eroh selama 45 hari, sampai air benar-benar mengalir ke perkampungannya.

Saat melakukan misinya, Ia menjadi tulang punggung keluarga lantaran sang suami tengah sakit stroke. Sehari-hari ia juga hidup prihatin. Jenjang pendidikan Sekolah Dasar juga belum bisa ia selesaikan dan hanya sampai kelas 3 SD.

Sempat Dapat Cibiran hingga Akhirnya Bisa Bantu Kampung Tetangga

Sebenarnya aksi nekat Mak Eroh sempat mendapat cibiran dari warga. Banyak yang menganggapnya gila lantaran membuat aliran air di lereng Galunggung terasa mustahil lantaran kondisinya curam.

Walau begitu, dirinya tak menggubris omonga warga tersebut demi terpenuhinya kebutuhan air. Lama kelamaan sejumlah warga justru ikut membantu, hingga air juga bisa turut dirasakan manfaatnya oleh dua kecamatan tetangga yakni Cisayong dan Indihiang.

Saat ini terdapat tugu Mak Eroh di tengah alun-alun Kota Tasikmalaya, ia terlihat berdiri memegang bendera bertuliskan Kalpataru dengan menghadap ke arah selatan.

Beliau dikabarkan wafat pada 18 Oktober 2004, jenazahnya dikuburkan tepat di samping rumahnya. Di makamnya terdapat pahatan bertuliskan ''Pahlawan Lingkungan Hidup Ma Eroh, Penerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Soeharto tahun 1988 dan Penghargaan Lingkungan Hidup dari Persatuan Bangsa-Bangsa tahun 1989''.

Sumber:

Instagram Jabar Quick Response, Liputan6, Goodnewsfromindonesia, Koalisiperempuan

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP