Mengenal Depresi Perinatal, Gangguan Suasana Hati selama Kehamilan
Merdeka.com - Masa kehamilan dan minggu-minggu setelah kelahiran adalah waktu-waktu yang sulit secara fisik, emosional, dan mental. Terkadang muncul perasaan gembira dan bahagia, atau merasa sedih, lelah, dan cemas di waktu berikutnya.
Meskipun emosi ini mencerminkan perubahan suasana hati yang normal selama kehamilan dan pascapersalinan, ada beberapa situasi ketika perubahan suasana hati ini mencerminkan sesuatu yang lebih serius.
Depresi perinatal adalah depresi yang dialami selama atau setelah kehamilan. Kondisi tersebut mempengaruhi satu dari tujuh wanita, menjadikannya salah satu komplikasi medis paling umum selama kehamilan dan masa nifas.
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan suasana hati yang mengakibatkan perasaan depresi selama kehamilan atau setelah melahirkan, termasuk depresi postpartum, depresi ibu, depresi prenatal, dan depresi postnatal.
Dalam artikel berikut ini kami akan sampaikan lebih lanjut tentang depresi perinatal yang dikutip dari laman verywellmind.com.
Gejala Depresi Perinatal
Wajar jika mengalami pasang surut emosi selama kehamilan dan periode pascapersalinan; perubahan suasana hati yang ringan selama kehamilan sering terjadi. Namun, jika perasaan depresi atau kecemasan selama atau setelah kehamilan bertahan selama beberapa minggu, atau dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, maka Anda perlu meminta bantuan.
Gejala depresi perinatal meliputi:
Penyebab Depresi Perinatal
Penyebab depresi perinatal melibatkan berbagai kerentanan medis, sosial, dan psikiatri. Depresi sendiri pada umumnya lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, di mana wanita dua kali lebih banyak terpengaruh.
Awal gejala depresi sering memuncak selama tahun-tahun reproduksi, yang menunjukkan aktivitas hormonal sebagai salah satu penyebab depresi kehamilan. Pergeseran hormon selama kehamilan dan pada periode postpartum juga dapat berperan dalam gejala depresi perinatal.
Ada beberapa faktor risiko dari depresi perinatal, termasuk:
Wanita dengan depresi atau kecemasan saat hamil harus dipantau secara ketat selama kehamilan dan periode pascapersalinan.
Pengobatan
Meskipun gejala sehari-hari terkadang terasa luar biasa dan permanen, depresi selama dan setelah kehamilan dapat diobati. Melalui kombinasi berbagai terapi, pengobatan, dan perawatan diri, Anda dapat mulai merasa lebih baik.
Terapi dan Konseling
Psikoterapi merupakan garis pertahanan pertama saat menangani depresi perinatal. Selama terapi, Anda mulai dapat memahami diagnosis Anda dan bagaimana pengaruhnya terhadap hidup Anda.
Seorang terapis juga akan bekerja sama dengan Anda untuk mengembangkan strategi untuk mengurangi keparahan gejalanya. Ada beberapa bentuk psikoterapi, namun khususnya ada dua, yang telah dipelajari dalam pengobatan depresi perinatal, yaitu Cognitive behavioral therapy (CBT) dan Interpersonal therapy.
Antidepresan
Dokter mungkin juga akan memberikan antidepresan, yang merupakan kelompok obat yang biasa diresepkan untuk mengobati depresi. Mereka bekerja dengan meningkatkan kadar sekelompok bahan kimia di otak yang disebut neurotransmiter (terutama serotonin, norepinefrin, dan dopamin) yang terlibat dalam mengatur suasana hati. Ada perbedaan pendapat tentang penggunaan antidepresan selama kehamilan, dan pertimbangan khusus juga harus diberikan jika Anda sedang menyusui.
Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) adalah antidepresan yang paling sering diresepkan selama kehamilan dan periode postpartum.
Bicarakan dengan dokter tentang risiko yang terkait dengan konsumsi obat selama kehamilan, serta risiko apa pun yang terkait dengan depresi yang tidak diobati. Mereka dapat membantu Anda memutuskan apa yang terbaik untuk Anda.
Akupunktur
Selain itu, penelitian pendahuluan telah menunjukkan bahwa terapi alternatif seperti akupunktur dan akupresur dapat membantu intervensi untuk mengelola gejala depresi selama kehamilan.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya