Melihat Tradisi Ospek di Zaman Belanda, Ketika Siswa Baru Disuruh Baca Huruf Terbalik

Kamis, 25 Agustus 2022 15:55 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Melihat Tradisi Ospek di Zaman Belanda, Ketika Siswa Baru Disuruh Baca Huruf Terbalik Ospek. ©istimewa

Merdeka.com - Ospek seakan menjadi tradisi tahunan yang selalu ada di setiap universitas. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenalkan lingkungan pendidikan, kepada para peserta didik baru.

Sayangnya tradisi tersebut tidak selalu diselenggarakan secara baik. Di beberapa kampus, kegiatan ospek kerap diwarnai dengan tindakan kekerasan, senioritas hingga perpeloncoan.

Tidak ada yang tahu persis kapan ospek pertama kali terjadi di Indonesia. Namun menurut catatan sejarah, ospek sudah terjadi di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, atau STOVIA, yang saat ini lebih dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1920-an. Berikut selengkapnya.

2 dari 4 halaman

Kegiatan Ospek di Stovia

kampus stovia tahun 1920an

Siswa di STOVIA tahun 1902 ©2022 muskitnas.kemdikbud.go.id/ Merdeka.com

Merujuk memoar berjudul “Kenangan dari Kehidupan Siswa STOVIA 25 Tahun Lalu” pada buku Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926 yang ditulis oleh seorang lulusan dokter STOVIA Bumiputera, Jacob Samallo, kegiatan ospek di kampus berkonsep asrama tersebut dilakukan mirip dengan kegiatan militer.

Ketika itu para calon peserta didik baru harus melakukan setiap kegiatannya secara tepat waktu. Pada pukul 07.30 WIB pagi, mereka akan memulai sekolah hingga 17.30 WIB. Kemudian mereka diharuskan belajar petang dimulai pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB yang dilanjutkan apel malam sampai pukul 00.00 WIB.

Saat berada di luar lingkungan sekolah, mereka diharuskan memakai topi dan seragam lengkap. Jika didapati salah seorang di antaranya tidak melengkapi atributnya, maka hukuman kurungan di kamar selama satu sampai dua hari menanti.

Tak sampai di situ, senioritas juga sudah terjadi di masa tersebut. Dilanjutkan Jacob Samallo, para murid harus memanggil seniornya dengan sebutan “Tuan”.

Mereka akan disuruh jadi pelayannya dengan mengelap sepatu, mengatur tempat tidur, mengisi lampu hingga menjadi kurir dan membayarkan makanan yang dimakan senior di kantin.

3 dari 4 halaman

Dilangsungkan Selama Tiga Bulan

Sementara dalam catatan berbeda yang ditulis lulusan STOVIA lain bernama Mohammad Roem berjudul “Bunga Rampai dari Sejarah Jilid 3” dikisahkan jika kegiatan ospek atau perpeloncoan di sekolah tersebut berlangsung hingga tiga bulan.

Menurut mantan Diplomat yang juga Wakil Perdana Menteri ke-10 Republik Indonesia era Presiden Soekarno itu, ospek yang diberlakukan bernama ontgroening yang berarti ‘Hijau’. Hijau yang dimaksud di sini adalah murid baru, mereka diharuskan menghapus istilah hijau ini dengan mengikuti kegiatan tersebut.

Berdasarkan pengalaman nyatanya itu, Roem mengaku jika ospek di STOVIA belum terdengar hingga melampaui batas. Hal itu karena setiap kegiatan di sana diawasi dengan ketat oleh para petinggi. Untuk waktunya sendiri pun dibatasi, dan tidak boleh dilakukan saat jam belajar dan istirahat.

4 dari 4 halaman

Disuruh Membaca Alfabet (Aksara) Jawa Terbalik

kampus stovia tahun 1920an
Suasana lingkungan kampus STOVIA tahun 1902 ©2022 muskitnas.kemdikbud.go.id/ Merdeka.com

Turut diceritakan Roem jika kegiatan ospek di sana dilakukan dengan tidak biasa, di mana ia ditanya tentang asal tempat tinggalnya di Jawa Tengah.

Ketika itu, seniornya memberinya tugas untuk mengenali tentang unsur-unsur alfabet (aksara) Jawa dan ia harus mengucapkannya. Ketika materi pertama selesai, seniornya kembali memberikan tantangan ke dua yakni membawa aksara Jawa secara terbalik dari belakang.

Hingga waktu malam tiba, setelah dirinya mengerjakan tugas sekolah, Mohammad Roem masih terus menghafalkan alfabet Jawa dari belakang ke depan. Dan kegiatan perpeloncoan tersebut hanya dilakukan di dinding sekolah hingga asrama.

Menurut Roem, di masa itu tindakan ospek atau perpeloncoan tidak boleh dilakukan dengan cara menggunduli siswa baru.

Sumber: muskitnas.kemdikbud.go.id

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini