Melihat Jejak Etnis Tionghoa Tangerang di Museum Benteng Heritage, Ada Produk Kecap Tertua di Indonesia

Di museum ini pengunjung seakan diajak menapaki jejak masa silam kejayaan peranakan Tionghoa di Tangerang.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Melihat Jejak Etnis Tionghoa Tangerang di Museum Benteng Heritage, Ada Produk Kecap Tertua di Indonesia
Di museum ini pengunjung seakan diajak menapaki jejak masa silam kejayaan peranakan Tionghoa di Tangerang. Vibesnya otentik (© 2024 merdeka.com/Ig Museum Benteng Heritage)

Istilah “Benteng” selama ini melekat pada Tangerang sebagai salah satu kota di Provinsi Banten.

Kota ini selanjutnya turut memiliki julukan lain yakni Cina Benteng, karena di masa silam terdapat permukiman warga Tionghoa yang lokasinya tak jauh dari benteng pertahanan masa kolonial.

Etnis Tionghoa memang berkembang pesat di Kota Tangerang, dan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia sejak abad ke-15. 

Saking berkembangnya etnis Tionghoa di Tangerang, tokoh kekaisaran terkenal asal negeri Tirai Bambu, Laksamana Cheng Ho pernah bertandang.

Kebudayaan tersebut lambat laun berakulturasi dengan kearifan lokal Betawi serta Sunda, yang jejaknya bisa disaksikan di Museum Benteng Heritage, Kawasan Pasar Lama.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Ig Museum Benteng Heritage

Terdapat banyak jejak masa silam komunitas masyarakat Cina Benteng yang dipelihara, salah satunya adalah produk kecap tertua di Indonesia. Yuk simak informasi selengkapnya.

Gedung Museum Berdesain Tionghoa Kuno
© 2024 merdeka.com//Ig Museum Benteng Heritage

Mengutip kanal Benteng Heritage, gaya bangunan museum ini  menghadirkan visual kejayaan Tionghoa di Kota Tangerang masa silam.

Terlihat gaya jendela, pintu sampai dinding bangunan yang dibuat dengan desain arsitektur khas negeri Tiongkok.

Diketahui sang pemilik, Udaya Halim memang merestorasi bangunan yang sebelumnya merupakan asli peninggalan kejayaan Cina Benteng di masa silam. Dulunya, rumah ini merupakan tempat tinggal dari komunitas warga Tionghoa di abad ke-17.

Tujuan utama didirikannya museum ini untuk mengarsipkan berbagai benda, peninggalan peranakan Tiongkok sebelum abad ke-19.

Bangunan museum didesain dua lantai. Di selasar bawah, tersimpan berbagai perabotan khas rumah Tionghoa di awal-awal kedatangan mereka melalui Teluk Naga Tangerang tahun 1400-an.

Perabotan yang masih dijaga keasliannya ini di antaranya berbagai jenis keramik, sofa, kayu, meja, alat makan sampai meja untuk bermain kartu dan dadu.

Di masa silam, warga Tionghoa memang menggemari permainan dadu, sampai-sampai mereka menyiapkan tempat penyimpanan makanan di sisi meja.

Kisahkan Kedatangan Laksamana Cheng Ho
© 2024 merdeka.com/Ig Museum Benteng Heritage

Di lantai dua terpampang papan besar berisi kisah kedatangan Laksamana Cheng Ho ke wilayah Tangerang melalui Teluk Naga.

Dikisahkan bahwa rombongan yang dipimpin prajurit kepercayaan kerajaan besar Tiongkok Muslim itu mendarat di Tangerang pada 1405.

Ketika itu rombongan sebanyak 30.000 pasukan datang dengan 300-an kapal besar. Laksamana Cheng Ho memiliki misi pertukaran budaya, termasuk melakukan perdagangan ke beberapa wilayah yang dijelajahinya, termasuk Tangerang.

Ini merupakan salah satu upaya ekspansi yang dilakukan Dinasti Ming yang kala itu memegang tahta kepemimpinan tertinggi di Tiongkok.

Jika ingin lebih merasakan nuansa kejayaan Cina Benteng atau budaya peranakan Tionghoa di Tangerang masa silam, menyewa pakaian tradisional Tiongkok bisa jadi pilihan.

Pakaian ini sangat menonjolkan motif khas masa silam, dengan warna merah menyala dan ornamen khusus. Terlebih bagi suka mengabadikan diri akan semakin cocok, setelah memakai pakaian tradisional tersebut.

Tak perlu khawatir, selama berkunjung akan ditemani oleh tour guide yang siap menjelaskan kebudayaan Cina Benteng di masa silam.

Mengutip laman Pemkot Tangerang, daya tarik lainnya yang ada di museum ini adalah terdapatnya koleksi berbagai jenis kecap yang sudah ada di Kota Tangerang sejak 1800-an. Salah satu kecap tertua itu adalah kecap bermerek Benteng.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Ali Hartono

Kecap ini sudah ada di Tangerang sejak zaman dahulu, dan memiliki tekstur yang kental dan berwarna hitam pekat.

Rasanya yang gurih dan manis ini membuatnya sering dijadikan sebagai bahan tambahan masakan oleh koki-koki keturunan Tionghoa. Selain itu, di sana juga tersimpan berbagai koleksi kamera lawas zaman kolonial.

Menyantap Menu Khas Tionghoa
© 2024 merdeka.com/Ig Museum Benteng Heritage

Adapun pabriknya berada tak jauh di sana dan jika penasaran dengan rasanya, di bawah juga terdapat spot restoran yang menyajikan menu-menu khas peranakan Tionghoa.

Makanan-makanan khas itu terdiri dari bacang, sate, onde, mi dan lain-lain.

Selain itu, pengunjung bisa mengikuti kegiatan tur dengan mengelilingi area museum sampai kawasan pasar lama.

Uniknya, selama berkeliling itu, pengunjung akan diminta mengenakan topi anyaman khas Tangerang masa silam.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Ig Museum Benteng Heritage

Museum Benteng Heritage Tangerang

Rekomendasi