Kisah Petilasan di Tengah Jalan Sumedang, Alat Berat Malah Rusak saat Dipindahkan

Pihak kontraktor asing sempat ingin membuat jalan di sana, namun alat berat justru rusak.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Kisah Petilasan di Tengah Jalan Sumedang, Alat Berat Malah Rusak saat Dipindahkan
Kisah Petilasan di Tengah Jalan Sumedang, Alat Berat Malah Rusak saat Dipindahkan (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebuah gundukan besar menyerupai bukit berada di tengah jalan Kampung Karamat, Desa Cigintung, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Seperti terlihat di kanal YouTube Cahya to Chanel, Kamis (21/9), gundukan dengan pohon yang tinggi menjulang itu merupakan situs peninggalan dari seorang prajurit wanita di zaman Kerajaan Tembong Agung pada abad ke-8 silam.

Menurut cerita dari sang juru kunci, petilasan tersebut sulit untuk dipindahkan. Bahkan saat hendak dibongkar untuk keperluan proyek Bendungan Jatigede, salah satu alat berat justru mengalami kerusakan. 

Sampai sekarang situs ini menjadi tempat untuk mengenang kejayaan Kerajaan Tembong Agung, yang merupakan pendahulu dari Keraton Sumedang Larang.

Berikut kisahnya.

Menurut budayawan sekaligus juru kunci petilasan, Abah Ujang, gundukan dengan beberapa pohon di tengahnya itu merupakan petilasan seorang punggawa kerajaan perempuan bernama Dewi Maya Maya.

Dewi Maya Maya di masanya diberi kepercayaan oleh Raja Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih untuk menjaga kawasan Kampung Karamat, dan memutuskan menetap di titik tersebut.

Saat itu, Kampung Karamat masih berupa hutan dan gunung, sehingga perlu dilakukan penjagaan oleh pihak Kerajaan Tembong Agung.

Berada di tengah jalan.
Dok. Istimewa

Keberadaan petilasan sendiri bisa dilihat secara jelas saat melintasi kawasan Kampung Karamat. Posisinya persis berada di tengah jalan penghubung Cisitu dengan Waduk Jatigede, dan dipasangi pagar di sekelilingnya.

Karena tidak bisa dipindahkan atau dihilangkan, akhirnya jalan dibuat melingkar untuk memudahkan pengguna jalan.

Masyarakat pun saat ini menjadikan petilasan tersebut sebagai ikon di Kampung Karamat, dan difungsikan sebagai bundaran jalan.

Menurut Abah Ujang, saat pembangunan Waduk Jatigede, pihak kontraktor ingin membuka jalan yang lebar sebagai akses lalu lalang dump truk besar pengangkut material batu.

Truk diharuskan melewati Kampung Karamat, untuk mengambil material di Gunung Julang, Kecamatan Cisitu.  Agar aksesnya mudah, pihak kontraktor asing asal China mencoba membongkar petilasan dengan alat berat ekskavator.

“Saat pembangunan itu jalan harus rata untuk pengambilan material batu di Gunung Julang, namun di sini jadi masalah, pihak Sinohydro (kontraktor China) tidak bisa membongkarnya,” kata Abah Ujang.

Alat berat rusak saat akan membongkar petilasan.
Dok. Istimewa

Ditambahkan Abah Ujang, operator ekskavator yang membongkar tersebut merasa tidak mampu untuk membongkar petilasan itu.

Setelah operator menghubungi perusahaan, para petinggi kontraktor asal China menyaksikan secara langsung bahwa petilasan tidak bisa dibongkar walau sudah menggunakan beberapa alat berat. Bahkan satu di antaranya rusak dan terdapat operator yang meninggal setelah batu tergeser.

“Saat pengerjaan operatornya melapor ke perusahaan dan disaksikan langsung bahwa petilasannya tidak bisa dibongkar, karena ekskavatornya ada yang rusak dan terdapat operator yang meninggal dunia,” katanya.

Saat ini petilasan sering didatangi banyak kalangan, baik masyarakat sekitar Sumedang maupun luar daerah seperti Majalengka, Cirebon dan Indramayu.

Tak sampai di situ, menurut Abah Ujang, petilasan pernah didatangi penggemar sejarah dari Bengkulu.

“Kalau dari warganya sendiri bukannya mempercayai, tapi tidak ingin menghilangkan kearifan lokal zaman dulu sebagai sejarah,” katanya

Rekomendasi