Jadi Tren, Begini Penjelasan MUI Soal Adopsi Boneka Spirit Doll
Merdeka.com - Mengadopsi boneka arwah atau spirit doll saat ini tengah menjadi perbincangan. Banyak yang meyakini jika boneka tersebut bisa membawa ketenangan, termasuk menjadi teman selayaknya anak sendiri.
Tren ini turut ditanggapi oleh Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis. Dilansir dari laman Dream.co.id, Rabu (5/1), menurutnya tidak masalah jika sebuah boneka diperlakukan laiknya mainan. Namun ada batasan yang harus dipahami oleh para pemiliknya agar tidak salah.
Tidak Boleh Dipersepsikan dengan Hal Gaib

©2014 Merdeka.com/shutterstock/intoit
KH Cholil melanjutkan, boneka tersebut hanya boleh diperlakukan sebatas mainan. Jika kategorinya sudah diidentikkan dengan hal-hal yang berbau gaib, lanjutnya, harus dihindari.
"Tidak boleh ketika kita mempersepsikan atau mengisi boneka itu dengan roh, dengan jin, atau meyakini punya kekuatan, bisa membuat hoki, atau dijadikan seperti anak yang punya jiwa," terang Cholil.
Ia menegaskan, bagian dari mendekatkan boneka atau mengisinya dengan makhluk gaib sudah sangat berkaitan dengan dunia mistis. Karena dalam proses itu melibatkan jin serta makhluk halus.
"Kita tidak tahu betul makhluk halus itu yang baik atau buruk," katanya lagi.
Ada Potensi Menyekutukan Tuhan
Dalam keterangannya, ia mengingatkan agar pemilik spirit doll bisa menekan potensi syirik, karena tindakan tersebut dekat dengan menyekutukan Tuhan.
Selain itu, Cholil juga menegaskan, jika spirit doll yang disalah gunakan bisa berpotensi bertentangan dengan ajaran-ajaran agama. Ia beranggapan, lebih baik jika yang diadopsi merupakan anak yatim piatu daripada boneka arwah dengan harga yang mahal.
"Itu (yatim piatu) lebih baik disayangi daripada beli boneka mahal-mahal, puluhan juta dan merawatnya, dan itu malah menyimpang dari tuntunan Allah SWT," pungkas Cholil.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya