Diadakan Jelang Puasa, Tradisi Nyorog Jadi Simbol Hormat Warga Betawi ke Orang Tua

Rabu, 30 Maret 2022 06:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Diadakan Jelang Puasa, Tradisi Nyorog Jadi Simbol Hormat Warga Betawi ke Orang Tua ilustrasi lebaran. liputan6.com

Merdeka.com - Menjelang bulan suci Ramadan sejumlah daerah di Indonesia turut menyambutnya dengan tradisi lokal, tak terkecuali di Betawi. Di sana tradisi Nyorog menjadi rutinitas yang tak bisa ditinggalkan.

Nyorog merupakan cara orang Betawi untuk menghormati orang tua, maupun sanak keluarga yang memiliki usia jauh di atasnya. Biasanya kalangan muda akan menghantarkan berbagai macam barang, termasuk makanan dan buah-buahan, beberapa hari menjelang masuknya hari puasa pertama.

Mengutip laman Dinas Kebudayaan Jakarta, Selasa (29/3), beberapa bingkisan yang umum dibawa ke sanak saudara dan keluarga tua yakni kue-kue, bahan makanan mentah berupa gula, susu, kopi, sirup, beras, ikan bandeng dan daging kerbau, termasuk kuliner tradisional Betawi yang dimasukkan ke dalam rantang, misalnya saja sayur gabus pucung.

2 dari 5 halaman

Sebagai Ajang Silaturahmi

sayur gabus pucung

Sayur gabus pucung jadi salah satu kuliner yang wajib dibawa saat acara Nyorog jelang Ramadan

©ResepKoki/Instagram/genikayu

Bagi masyarakat Betawi, orang tua dan keluarga merupakan hal yang terpenting dan wajib untuk dihormati. Membawa sejumlah bingkisan, termasuk makanan menjadi salah satu sarana untuk mempererat tali silaturahmi yang lama terputus jarak.

Saat makanan tersebut dibawakan ke orang yang lebih tua, maupun sanak keluarga. Terdapat momen di mana anak ke ayah dan ibu, maupun ke mertua berinteraksi dan bersantap bersama sembari saling memaafkan.

Dilansir dari laman Seni Budaya Betawi, tradisi Nyorog masih terus dipertahankan di wilayah Betawi pinggiran maupun tengah Ibu Kota Jakarta, seperti di Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan.

3 dari 5 halaman

Berangkat Dari Tradisi Sedekah Bumi

Dari beberapa catatan, Nyorog sendiri berakar dari  tradisi ‘Sedekah Bumi’ dan ‘Baritan’. Keduanya merupakan ritus upacara adat yang menyimbolkan refleksi antara interaksi manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada sang pencipta.
 
Sebelum agama Islam masuk ke ke Pulau Jawa, masyarakat sering membawakan makanan untuk sesajen yang akan dipersembahkan kepada Dewi Sri atau lambang kemakmuran. Kegiatan tersebut kemudian ungkapan rasa syukur kepada setiap rezeki yang sudah didapatkan manusia (sekarang kalangan muda).
 
Setelah datangnya Islam, Nyorog lantas diartikan sebagai upaya penghormatan dan silaturahmi kepada orang yang lebih tua atau para sesepuh kampung yang dihormati. Ada pun sumber lain yang menyebutkan tradisi nyorog telah dilakukan masyarakat Betawi sejak tahun 1800-an. Tradisi tersebut diperkenalkan para wali saat menyebarkan ajaran Islam.

4 dari 5 halaman

Tak Hanya Dilakukan saat Jelang Ramadan

Tradisi Nyorog sendiri sebenarnya tak hanya dekat dengan bulan Ramadan saja, melainkan juga dilaksanakan dalam momen sakral lain seperti acara pernikahan.

Biasanya,  Sebelum lamaran, sorogan (bebawaan) akan diberikan dari pihak mempelai lelaki ke mempelai perempuan. Seserahan itu akan berbentuk bahan makanan disertai dengan bingkisan.

Salah satu fungsinya ialah untuk mempererat tali kedekatan, antara ke dua belah keluarga mempelai. Selain itu juga sebagai upaya untuk mengikat mempelai pria dan wanita, menjelang pengesahan status suami dan istri.

5 dari 5 halaman

Dekat Dengan Nilai Islam

Dikutip dari JISA: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial UIN SU Medan jurnal.uinsu.ac.id, tradisi Nyorog begitu dekat dengan tradisi masyarakat sosial Islam di pinggiran Jakarta.

Sedekah menjadi salah satu alasan tradisi ini masih dilakukan warga, khususnya menjelang bulan Ramadan. Dengan bersedekah, akan membuat para pelestarinya lebih siap dalam menjalankan ibadah puasa.

Kemudian unsur silaturahmi di Nyorog juga merupakan perintah dalam kitab suci Al Quran, hingga seluruh anggota keluarga bisa saling mengenal saudaranya satu sama lain.

Baca juga:
Makna di Balik Tradisi Sadranan di Situs Keraton Kartasura, Peringati Sejarah Leluhur
Sambut Bulan Ramadan, Begini Keseruan Tradisi Sadranan Warga Desa Purbalingga
Fakta Menarik Larung Sesaji Telaga Sarangan 2022, Digelar Mulai Hari Ini
Kesibukan Warga Iran Menyambut Perayaan Noruz
Arak Kereta Dewa Hindu, Warga India Tumpah ke Jalan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini