Bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya Garut, tradisi adu domba tentu bukan hal yang asing. Kegiatan ini merupakan adu ketangkasan yang melibatkan kambing-kambing besar khas Kota Intan dan telah diwariskan secara turun-temurun. Bagi warga setempat, tradisi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya lokal.
Pertunjukan adu domba biasanya digelar di lapangan terbuka dengan iringan musik tradisional yang menambah suasana meriah. Namun, seiring perkembangan zaman, minat terhadap kesenian ini perlahan mengalami penurunan. Meski begitu, tradisi ini masih terus dipertahankan oleh komunitas pencinta domba Garut sebagai upaya menjaga warisan budaya leluhur.
Di balik kemeriahannya, terdapat fakta menarik yang jarang diketahui banyak orang. Salah satunya adalah bahwa adu ketangkasan ini dapat meningkatkan “kelas” seekor kambing. Semakin baik performa domba dalam ajang tersebut, semakin tinggi pula nilai dan prestise yang disandangnya, baik untuk pemilik maupun komunitas peternak di Garut.
Advertisement
Sejarah Domba Garut
Dikutip dari laman resmi Dispar Jawa Barat, tradisi unik tersebut tak bisa dilepaskan dari domba Garut sebagai unsur utama pertandingan. Konon, domba khusus yang biasa dipergunakan adalah domba yang berasal dari mantan Bupati Garut, Suryakanta Legawa di tahun 1815–1829.
Saat itu, sang bupati selalu berkunjung ke teman satu perguruannya bernama H Saleh, yang juga merupakan peternak ternama di masanya. Suryakanta meminta salah satu kambing milik Haji Saleh, si Lenjang untuk dikawinkan dengan kambing yang ada di Pendopo Kabupaten bernama Dewa.
Sejak saat itu si Lenjang terus beranak pinak hingga menjadi domba-domba berbadan besar dan perawakan kekar serta memiliki tanduk yang kuat. Saat ini domba-domba tersebutlah yang menjadi ciri khas Domba Garut.
Advertisement
Menaikan Pamor Domba Garut
Advertisement
Pelaksanaan Adu Domba
Sebelum pertunjukan dimulai biasanya petandang (pemilik kambing) akan menunggu instruksi serta aba-aba dari wasit yang mengatur jalannya pertandingan. Biasanya juri dan wasit akan menyepakati maksimal 20 kali aduan tanduk domba sebelum dilakukan penilaian siapa yang akan menjadi juara.
“Jika setelah melewati pukulan ke tujuh atau mulai ke delapan domba slek (cedera), maka dianggap gugur (kalah)," ujar dia menerangkan.
Selanjutnya, saat pukulan ke-15 petandang akan diberikan kesempatan untuk melihat kondisi domba, serta memijat domba agar bisa kembali memiliki tenaga untuk menghabiskan sisa 5 aduan.
Advertisement