Amalan Setelah Sholat Subuh yang Wajib Diketahui, Pahami Keutamaannya
Merdeka.com - Islam ditegakkan oleh lima perkara yang disebut rukun Islam, yakni membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan sholat lima waktu dalam sehari semalam, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan ibadah haji bagi yang memiliki kemampuan.
Setelah mengakui diri seorang Muslim dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, kewajiban pertama dan utama yang harus dilakukan adalah sholat lima waktu, yakni sholat subuh, sholat zuhur, sholat ashar, sholat magrib dan sholat isya.
Salah satu sholat yang memiliki banyak keutamaan adalah sholat subuh. Tak heran bila sholat subuh kerap disebut sebagai sholat yang paling afdal. Pada waktu subuh, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak mengingat Allah, salah satunya dengan menjalankan amalan setelah sholat subuh yakni berzikir kepada Allah.
Berikut amalan setelah sholat subuh yang telah dirangkum merdeka.com melalui NU Online dan berbagai sumber lainnya pada Rabu, (02/02/2022).
Anjuran Zikir Setelah Sholat Subuh
Adapun ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar anjuran zikir di waktu Subuh, yaitu Surat Thaha ayat 130, Surat Ghafir ayat 55, Surat An-Nisa ayat 148, Al-An‘am ayat 52, An-Nur ayat 36, dan Surat As-Shad ayat 18 yaitu sebagai berikut:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Artinya, “Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari,” (Surat Thaha ayat 130).
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
Artinya, “Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada pagi dan petang,” (Surat Ghafir ayat 55).
Semua ayat ini menunjukkan anjuran agar manusia berdzikir memuji Allah pada waktu subuh atau pagi hari dan tentu saja sore hari.
Amalan Setelah Sholat Subuh dan Keutamaannya
Imam An-Nawawi menyebut Sayyidul Istighfar sebagai lafal yang baik dan utama dibaca saat subuh atau pagi hari dan petang. Bunyi lafal Sayyidul Istighfar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Bukhari adalah sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.
Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
Adapun zikir lainnya adalah lafal tasbih sebagaimana dipahami secara harfiah dari ayat-ayat tersebut. Riwayat hadits pada Shahih Muslim menyebut lafal tasbih sebagai berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
Subhānallāhi wa bi hamdih.
Artinya, “Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya.”
سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Subhānallāhil ‘azhīmi wa bi hamdih.
Artinya, “Mahasuci Allah yang maha agung dengan segala puji bagi-Nya.”
Lafal tasbih yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak 100 kali ini memiliki keutamaan luar biasa. Siapa saja yang mengamalkannya akan membawa amal terbaik pada hari kiamat kelak.
(mdk/nof)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya