Advertisement
Penulis: Arsya Muhammad
Telepon di Pangkalan Udara Etzion berbunyi. Seorang perwira tinggi angkatan udara Israel mengangkatnya dengan tenang. Menggangguk, dan tak lama kemudian, dia memberikan instruksi. "Berangkat! "
Minggu sore 7 Juni 1981, saat matahari sore menyinari Gurun Sinai, meluncurlah pesawat-pesawat tempur Israel dari Etzion. Delapan pesawat tempur F-16 yang masing-masing membawa bom seberat nyaris satu ton.
Ditambah enam pesawat tempur F-15 yang bertugas memberikan perlindungan udara bagi pesawat F-16 tersebut.
Misi mereka menghancurkan fasilitas nuklir Irak yang disebut Osirak di kompleks El Tuwaitha, tak jauh dari Baghdad.
Israel takut jika fasilitas nuklir di Irak itu bisa selesai dan beroperasi, maka akan mengancam mereka. Apalagi dalam beberapa pemberitaan pihak Irak mengaku kalau nuklir tersebut, tidak akan digunakan melawan Iran, melainkan untuk melawan zionisme.
Karena itu Israel memutuskan sebuah serangan udara harus segera dilakukan.
"Pusat reaktor nuklir itu dikitari oleh rudal SAM-6 buatan Soviet," demikian ditulis dalam buku Mossad, Dinas Rahasia Israel yang terbit tahun 1986.
Advertisement
Sudah bertahun-tahun ilmuwan dari Prancis dan Italia di bawah Presiden Saddam Hussein bekerja keras untuk mewujudkan reaktor nuklir tersebut. Mossad sendiri sudah memperingatkan pemerintah Israel sejak 1975 jika dengan kekayaan dari minyak, Irak akan mampu menyelesaikan reaktor nuklir tersebut.
Satu gugus tugas disiapkan Mossad untuk terus memantau perkembangan pembangunan reaktor nuklir Osirak. Lewat jalur klandestin, mereka berusaha mempengaruhi AS dan Prancis untuk mendesak Irak menghentikan program nuklirnya. Namun gagal. Program nuklir terus berlanjut.
"14 Juli 1980, Yahia El Meshad, seorang pria kelahiran Mesir yang memimpin program pengembangan nuklir Irak, tewas dibunuh di hotelnya di Paris."
Mossad dituding ada di belakang pembunuhan itu. Namun mereka mengelak. Meshad disebut dibunuh oleh orang Irak karena dicurigai hendak memberikan cetak biru nuklir Irak pada orang Israel.
Advertisement
Operasi Babilonia
Niat Israel untuk menggelar serangan udara pun makin bulat. Sebuah operasi yang bernama Operasi Babilonia atau sering disebut Operasi Opera pun digelar.
14 Pesawat tempur Israel terbang mengikuti garis perbatasan Arab Saudi dan Yordania. Mereka paham betul daerah kosong tersebut nyaris tidak tersentuh radar.
Setelah terbang 965 km, mereka mencapai El Tuwaitha. Target reaktor nuklir Osirak sudah jelas terlihat.
Pesawat F-16 pertama menjatuhkan dua bom ke kubah reaktor nuklir. Pesawat kedua dengan tepat menjatuhkan bom di atap reaktor yang sudah bolong akibat serangan pertama.
Ledakan sangat keras terjadi. Reaktor kebanggaan Irak hancur lebur dalam kobaran api hanya dalam hitungan detik. Sama sekali tidak ada perlawanan dari rudal-rudal anti serangan udara yang harusnya menjaga komplek tersebut.
Operasi Babilonia hanya berlangsung kurang dari tiga jam. Seluruh pesawat Israel mendarat kembali dengan selamat di pangkalan udara Etzion.
Advertisement
Dunia bereaksi keras atas serangan Israel ini. Publik dalam negeri pun mengecam serangan yang dilakukan oleh AU Israel. Tapi seperti biasa pemerintahan Israel tak peduli.