Kebiasaan penguasa Orde Baru ini diceritakan mantan ajudan presiden.
Advertisement
Kemacetan terjadi karena polisi lalu lintas menutup jalan saat rombongan presiden akan lewat.
Di tol Semanggi, tiba-tiba Soeharto menepuk pundak ajudannya, Kolonel Wiranto.
Advertisement
Mereka itu membayar untuk jalan bebas hambatan, bukan malah disetop gara-gara presiden mau lewat," kata Soeharto.
Advertisement
Wiranto terkejut mendengar kalimat itu diucapkan oleh seorang presiden yang punya previlege keamanan dan pengawalan khusus di Jalan Raya.
Kalau dibandingkan, sekarang malah banyak orang yang pakai strobo atau sirene di Jalan Tol minta dibukakan jalan oleh pengemudi lain.
Advertisement
Saat itu Presiden hanya dikawal satu mobil jip pengawal. Kemacetan terjadi di Jalan Pemuda, Jakarta.
Klakson sudah berbunyi bersahut-sahutan. Rupanya arus lalu lintas sudah lama ditutup untuk memberikan jalan bagi Presiden Soeharto yang akan melintas.
Soeharto yang melihat itu pun menyatakan ketidaksukaannya.
Advertisement
Mereka kan punya keperluan yang mendesak. Sedangkan saya hanya mau berolahraga.
Jadi biar saya saja yang menunggu sebentar, tidak apa-apa. Kata Pak Harto.
Masih ada lagi satu peristiwa yang menyadarkan Wiranto, Penguasa Orde Baru itu tidak mau diistimewakan di jalan.
Advertisement
Pagi harinya dia akan bekerja di Jl Cendana, seperti memanggil menteri atau memeriksa laporan dari para pejabat.
Kenapa pagi-pagi tidak langsung di kantor saja?
Advertisement
"Kalau pagi kan semua orang berangkat ke tempat kerja mereka sehingga jalanan sangat padat.
Kalau saya ikut berangkat pagi, akan menambah kemacetan lalu lintas karena mereka akan diberhentikan polisi.
Biarlah saya yang berangkat agak siang, tidak mengapa."