Kisah di Balik Gedung Suge, Saksi Bisu Kejayaan Dinasti Gouw yang Terbengkalai

Bagaimana nasib sebuah gedung yang menjadi saksi bisu perkembangan orang Tionghoa di Cianjur pada awal abad ke-20?

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kisah di Balik Gedung Suge, Saksi Bisu Kejayaan Dinasti Gouw yang Terbengkalai
Gedung Suge di Cianjur. ©2023 Hendi Jo

Bagaimana nasib sebuah gedung yang menjadi saksi bisu perkembangan orang Tionghoa di Cianjur pada awal abad ke-20? Kini kondisinya sangat mengenaskan dan membutuhkan uluran tangan pemerintah Kabupaten Cianjur.

Penulis: Hendi Jo

Gouw Kwan Lin bertutur dalam nada lancar, mengisahkan sejarah Gedung Suge. Itu nama bangunan tua yang beralamat di Jalan Taifur Yusuf No.50 Cianjur. Menurut lelaki kelahiran tahun 1946 tersebut, sejatinya Gedung Suge berasal dari nama kakeknya, Gouw Soe Gwee, yang merupakan pebisnis terkemuka di Cianjur pada era 1920-an.

"Karena lidah orang Cianjur tak terbiasa dengan nama itu, maka disebutlah rumah kakek saya itu dengan nama Gedung Suge," ujar lelaki yang memiliki nama Indonesia sebagai Krisna Ganda Soegita itu.

Krisna adalah cucu dari Gouw Soe Gwee dan istrinya Thio Bie Giok Nio alias Maria. Dia adalah putra ketiga dari Soe Gwee-Giok Nio yang bernama Gouw Tek Lan alias Trisna Loekita. Secara historis mereka merupakan keluarga pebisnis sejak akhir 1800-an, ketika salah satu moyang mereka bernama Gouw Ak Wan berkiprah di Cianjur.

Belakangan Soe Gwee menjadi pengusaha di Cianjur. Usahanya di bidang penjualan bahan makanan dan minuman yang rata-rata dipasok ke orang-orang Belanda berjalan sukses. Karena kesuksesan itulah dia bisa mempercantik rumah sekaligus tokonya yang dibuat Ak Wan pada 1908, jadi lebih bergaya Tionghoa-Eropa.

Siapa Soe Gwee?

Kegandrungan Soe Gwee kepada hal-hal yang berbau Eropa bisa jadi karena dia dibesarkan dalam gaya pendidikan Eropa di Hoogere Burgerschool (HBS). Di sana dia banyak bergaul bukan saja dengan sesama anak Tionghoa dari kalangan atas namun juga dengan anak-anak dari pejabat Hindia Belanda yang bertugas di Cianjur.

"Apalagi katanya, dalam keseharian dia lebih menyukai bercakap dalam bahasa Belanda dibanding bahasa Melayu atau bahkan bahasa Tionghoa," ungkap Pepet Johar, pengelola Museum Bumi Ageung Cianjur.

Pergaulan yang luas dari Soe Gwee meniscayakan bisnis-nya berjalan lancar dan maju. Pasokan dagangan-nya bukan saja melingkupi Cianjur saja. Namun jauh sampai ke Sukabumi dan Bogor.

Bahkan disebutkan Pepet, para administrator dan pimpinan perkebunan (bangsa Belanda) di pelosok pun kerap mendatangi toko milik Soe Gwee untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga mereka.

Sayangnya, di puncak kesuksesan itu tiba-tiba Soe Gwee harus meninggal dunia pada 26 Januari 1935 dalam usia lima puluh satu tahun. Tongkat estafet bisnis keluarga lantas dipegang oleh keempat putra lelaki-nya. Namun dalam perkembangan lebih lanjut, mereka sepakat untuk menyerahkan sepenuhnya bisnis tersebut kepada Gouw Tek Lan yang lahir pada 1921.

Kerusuhan Rasis di Cianjur

Di bawah Tek Lan, bisnis kembali berlangsung bagus hingga terjadilah insiden kerusuhan rasial di Cianjur pada 1963. Dalam kejadian tersebut, Toko Suge menjadi sasaran amuk massa. Penjarahan pun tak terhindarkan, menyebabkan bisnis dinasti Gouw limbung dan meluncur jatuh.

Setelah kejadian itu, perlahan namun pasti, Tek Lan membangun kembali kerajaan bisnisnya. Namun karena merasa niaga di bidang makanan dan minuman sudah tidak relevan lagi dengan zaman, maka dia memutuskan banting setir ke bisnis material (bahan bangunan).

Bisnis material berjalan cukup lumayan. Kendati tidak bisa lagi menyamai kesuksesan saat berbisnis di bidang makanan dan minuman, namun Toko Suge cukup bisa memberi makan sehari-hari keluarga Gouw hingga kemudian pengelolaannya jatuh kepada Krisna alias Gouw Kwan Lin.

Sampai awal 1990-an, Toko Suge tetap eksis dengan menempati bangunan yang dirintis oleh Gouw Ak Wan dan Gouw Soe Gwee. Karena kondisi struktur bangunan yang sudah mulai tak terawat baik, Krisna lantas memindahkannya ke seberang Toko Suge pada 1992.

Pohon Besar di dalam Rumah

Kini Gedung Suge berada dalam masa-masa sakratul maut. Kendati dari luar bentuknya masih nampak menyisakan kecantikan indis-nya, namun jika dilihat sampai ke bagian dalam, kondisinya sangat menggenaskan: dipenuhi rerumputan liar dan semak-semak tumbuh tak tertahan serta atap-atap bobrok yang menjadi sarang ratusan burung Kapinis.

"Bahkan pernah di dalam rumah tumbuh sebatang pohon besar yang kemudian kami tebang," ujar Krisna.

Situasi itu bisa teratasi jika pemerintah Kabupaten Cianjur turun tangan. Dan memang menurut Bupati Cianjur, H. Herman Suherman, ada niat Pemkab Cianjur mengambil-alih perawatannya. Tentu saja dengan seizin dan persetujuan pihak keluarga Gouw.

"Gedung Suge itu kan termasuk dalam objek cagar budaya, ya jadi jelas harus dilestarikan. Ke depannya bisa untuk menjadi obyek wisata sejarah dan budaya," ungkap Herman saat menerima Tim Ahi Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur pada Rabu (12/4).

Pihak TACB Kabupaten Cianjur sangat mendukung niat baik Bupati Cianjur tersebut. Menurut juru bicara TACB Cianjur, Ilham Nurwansah, sudah semestinya pemerintah Kabupaten Cianjur memperhatikan keberadaan situs-situs cagar budaya seperti Gedung Suge.

"Ini bukan hanya soal wisata sejarah saja. Tapi lebih dari itu. Beradab dan tidaknya sebuah bangsa kan ditentukan oleh bagaimana cara mereka memperlakukan peninggalan para leluhurnya," ungkap filolog muda dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta tersebut.

Rekomendasi