Ali Sadikin menjabat Gubernur DKI Jakarta tahun 1966-1977. Sosok Letnan Jenderal Marinir ini dikenal tegas.
Di masa kepemimpinan Bang Ali, Jakarta mulai berkembang sebagai kota metropolitan. Sosoknya dicintai warga DKI karena pembangunan ikut dirasakan oleh masyarakat kecil.
Bang Ali membangun gedung sekolah, taman rekreasi, puskesmas, jembatan penyeberangan, hingga hotel bertaraf internasional. Dalam setiap proyek, dia selalu turun langsung meninjau pengerjaannya.
Saat meninjau sebuah proyek, Bang Ali terkejut bukan main. Ternyata pembangunan proyek itu macet lantaran kontraktor terlambat memasok semen. Bang Ali pun segera mengecek permasalahannya.
Ternyata direktur perusahaan itu melanggar kontrak. Harusnya dia mengirim semen langsung dari pabriknya, bukan dari grosir atau tangan ketiga. Hal ini memperlambat pekerjaan.
Advertisement
Dipanggil dan Ditempeleng
Bang Ali minta agar direktur perusahaan pemasok semen itu dipanggil. Pada panggilan pertama dan kedua, direktur itu mangkir. Baru pada panggilan ketiga sang direktur hadir. Orangnya ternyata masih muda.
Bang Ali bertanya kenapa sampai terlambat. Apakah dia tidak sadar bahwa proyek ini untuk kepentingan warga ibukota?
Ternyata jawabannya berbelit-belit dan tidak jelas. Bang Ali pun naik pitam. Plak! Dia menampar direktur itu. Tidak cukup sekali, Bang Ali menamparnya tiga kali. Plak! Plak! Plak!
"Saya marah sekali, saya tempeleng dia tiga kali. Barulah dia berjanji akan segera memenuhi kontraknya. Benar juga, pada hari berikutnya kiriman semen sudah masuk ke proyek," kata Bang Ali.
Advertisement
Terima Kasih Untuk Gubernur
Beberapa hari kemudian, telepon berdering di kantor Gubernur. Rupanya ayah sang direktur yang menelepon. Ajudan Bang Ali yang mengangkatnya.
Tapi ternyata si ayah malah berterima kasih pada Bang Ali karena menempeleng anaknya. Dia mengaku senang karena Bang Ali telah memberikan pelajaran berharga untuk anaknya.
"Tolong sampaikan terima kasih saya pada Pak Gubernur. Bapak Gubernur telah mengajar anak saya," katanya.