Kemarahan dan Perdebatan Sukarno - Sjahrir: Soal Menyanyi Sampai Urusan Diplomasi

Selama menjadi tawanan Belanda , Sukarno dan Sjahrir kerap terlibat perang mulut. Puncaknya terjadi saat Si Bung Kecil memutuskan untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Belanda ke Jakarta.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kemarahan dan Perdebatan Sukarno - Sjahrir: Soal Menyanyi Sampai Urusan Diplomasi
Soekarno-Hatta-Sjahrir. ©2012 Merdeka.com

Selama menjadi tawanan Belanda , Sukarno dan Sjahrir kerap terlibat perang mulut. Puncaknya terjadi saat Si Bung Kecil memutuskan untuk memenuhi undangan Perdana Menteri Belanda ke Jakarta.

Penulis: Hendi Jo

Prapat, akhir 1949. Sukarno menyanyi dari kamar mandi para tawanan republik. Lagu One Day When We’re Young yang dipopulerkan oleh penyanyi Johann Strauss itu bergema dan menembus dinding kamar mandi hingga bisa didengar jelas oleh orang-orang yang ada di luar ruangan tersebut.

Alih-alih merasa terhibur, Sutan Sjahrir justru merasa terganggu. Dengan ketus dia lantas berteriak.

"Houd je mond!" teriak Si Bung Kecil (panggilan akrab Sjahrir) menyuruh Sukarno menutup mulutnya.

Menurut Haji Agus Salim, selama dalam tawanan Belanda di Brastagi dan Prapat, hubungan Sukarno-Sjahrir seperti hubungan antara kucing dan anjing. Hampir tiap waktu mereka berdebat dan masing-masing tak pernah cocok dalam berpendapat.

"Bahkan Sjahrir kerap menyebut Sukarno 'bodoh', 'pengecut' dan nama lain yang jelek," ungkap Haji Agus Salim seperti dituturkannya kepada Abu Hanifah dalam buku Tales of Revolution.

Sukarno pun mengakui ketidakcocokannya dengan Sjahrir selama dalam tawanan Belanda tersebut. Menurutnya, apapun ide dan pendapat yang keluar dari mulutnya, Sjahrir selalu tak menanggapi dan malah sering menyalahkannya.

"Dia menimpakan kesalahan atas serangan Belanda itu kepadaku…" curhat Sukarno kepada penulis asal Amerika Serikat Cindy Adams dalam Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

Puncak pertentangan terjadi saat Sjahrir memutuskan untuk memenuhi undangan Dr. Willem Dress, Perdana Menteri Belanda yang awal Januari 1949 itu baru saja tiba di Batavia (Jakarta). Masih segar dalam ingatan Sukarno, di salah satu ruangan rumah tahanan yang kecil, mereka berdebat secara keras membahas tawaran tersebut. Namun sekeras apapun pendapat Sukarno, Sjahrir tetap bergeming. Sebagai bentuk kompromi, dia berjanji hanya akan berada di Batavia dalam waktu seminggu saja.

"Aku hanya akan pergi untuk melaporkan kembali kepada Bung Karno apa yang sesungguhnya terkandung dalam pikiran orang-orang Belanda itu,” janji Sjahrir.

Sukarno pun akhirnya mengalah. Maka pada 19 Januari 1949, bertemulah Sjahrir dengan Perdana Menteri Dress. Menurut berita yang dilansir oleh Associated Press, Sjahrir menganggap usulan Dress tentang persetujuan nasional dapat diterima Indonesia. Selanjutnya dalam konfrensi pers di rumahnya yang terletak di Batavia, Sjahrir pun optimis Presiden Sukarno akan menyetujui ide tersebut.

"Toh kunjungan saya ke Batavia dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan Presiden Sukarno," ujar Sjahrir seperti dikutip oleh Rudolf Mrazek dalam Sjahrir,Politik dan Pengasingan di Indonesia.

Namun seminggu telah berlalu. Sjahrir tak jua kembali ke Prapat untuk melaporkan apa yang ia lakukan selama di Batavia. Tentu saja Sukarno berang.

"Dia tidak pernah kembali…Dia tidak pernah melaporkannya…" ujar Sukarno.

Kepada Cindy Adams, Sukarno menyatakan 'kecurigaannya' Sjahrir pergi ke Batavia hanya untuk bertemu dengan Perdana Menteri Dress dan memperlihatkan kesediannya bekerjasama lalu menjadi orang bebas. Benarkah demikian?

Hingga kini belum ada kejelasan mengapa Sjahrir tak kembali ke Prapat. Namun Mrazek membuat analisa bahwa itu terjadi karena Sjahrir merasa ketidakjelasan posisinya dalam pemerintahan republik pimpinan Sukarno.

Dalam suatu wawancara, saat Sjahrir sudah berbulan-bulan meninggalkan Prapat, para wartawan pernah bertanya kepada Si Bung Kecil: dalam kedudukan apa dia ada di Batavia dan siapkah ia melakukan perundingan dengan Belanda?

"Sebagai warga pribadi? Atau sebagai wakil pemerintah yang masih eksis meskipun pada waktu ini secara fisik tidak berdaya?" jawab Sjahrir dalam nada bertanya.

Lebih lanjut Sjahrir menyatakan bahwa sejak kembali ke Indonesia pada April 1948, dia merasa hanya berfungsi sebagai penasehat yang diperbantukan kepada presiden dan kepada delegasi Republik (untuk berunding dengan Belanda). Menurutnya, semacam track over.

"Saya tidak pernah diangkat kembali sebagai wakil pemerintah Republik sehingga saya tidak dapat merasa seperti itu…" katanya seperti dikutip Mrazek dalam bukunya.

Rekomendasi