Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pembangkangan PETA di Cileunca: Berawal dari Hilangnya Nasi dan Sayuran

Pembangkangan PETA di Cileunca: Berawal dari Hilangnya Nasi dan Sayuran peta. ©bogor hitorical community

Merdeka.com - Tak tahan akan siksaan di kamp pelatihan, para prajurit PETA melancarkan aksi perlawanan terhadap militer Jepang.

Penulis: Hendi Jo

Beberapa bulan usai terjadinya pemberontakan PETA di Blitar, Jawa Timur, kegundahan akan perlakuan militer Jepang juga terjadi pada anggota PETA yang sedang ditugaskan di Cileunca (masuk dalam wilayah Pangalengan), Jawa Barat. Perlakuan diskriminatif dan hukuman yang melewati batas kemanusiaan menjadi penyebab mereka memberontak pada Juni 1945.

Hal itu seperti dikisahkan dalam PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawad an Sumatera 1942-1945 yang disunting oleh Purbo S. Suwondo, eks anggota PETA.

Berawal dari insiden hilangnya satu ember nasi dan sekaleng sayuran dari dapur pasukan, pimpinan kesatuan PETA di Cileunca yakni Sidokan Yamamoto menghukum para prajurit PETA yang mendapat giliran piket malam itu dengan sebuah hukuman yang kejam: seiza.

Menurut David Jenkins dalam Soeharto and The Japanese Ocupation, seiza adalah sikap berlutut di lantai (atau di tanah) dengan melipat kaki di bawah paha, sementara pantat ada di atas tumit. Mayoritas prajurit Jepang sendiri bahkan tidak pernah bisa bertahan dari hukuman ini lebih dari setengah jam.

"Hukuman itu diberlakukan kepada para prajurit PETA beberapa jam, bahkan sampai larut malam," ungkap Jenkins.

Jika mereka jatuh atau tak kuat, maka pukulan rotan akan mendera tubuh mereka hingga berdarah-darah.

Ketika melakukan seiza di bawah terik matahari, para prajurit PETA yang dihukum pada akhirnya banyak yang tumbang. Bahkan begitu emosionalnya, seorang bundancho bernama Soetrisno alias Kempong, berlaku emosional.

"Daripada disiksa begini, lebih baik tembak saja saya!" teriaknya.

Teriakan itu direspons oleh para pimpinan dari unsur tentara Jepang. Sidokan Yamamoto lantas memerintahkan seorang kawan sebangsa Kempong untuk secepatnya mengeksekusi pemuda malang tersebut. Untunglah karena ada pembelaan dari komandannya yakni shodancho Poniman, hukuman itu urung dilaksanakan.

Namun perlakuan kejam itu menjadi puncak kemarahan para prajurit PETA Cileunca. Mereka kemudian menggerakkan pemberontakan yang mengakibatkan seorang komandan berkebangsaan Jepang tewas dalam kondisi mengenaskan: leher tergorok hampir putus. Mudah ditebak, pemberontakan itu kemudian ditindas dengan menggerakkan sepasukan tentara Jepang terlatih dan tank-tank dari Bandung.

"Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Kenpeitai (Polisi Militer Bala Tentara Jepang) yang dikenal loyal dan sadis," ungkap Purbo Suwondo.

Hukuman Penyiksaan Kejam

Akibat peristiwa itu, tujuh prajurit PETA yang dianggap provokator ditangkap oleh Kenpeitai dan dikurung di sel markas mereka yang terletak di Jalan Trunojoyo, Bandung. Mereka adalah Astika Lagino Syarief, Amar Sutisna, Toha, Sadki, Fatah, Akub dan O.Iskandar. Mereka diperlakukan sangat kejam dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan.

Beberapa hari kemudian, usai diadili secara militer, mereka yang dianggap provokator itu (kecuali Akub dan O.Iskandar) dibawa ke Lembang untuk dieksekusi dengan cara dipenggal kepala. Hingga kini, tak ada yang tahu di mana keberadaan jasad dan makam mereka.

Sementara Chudan I PETA ditarik dari Cileunca ke Cimahi: dilucuti senjatanya dan diasingkan dari chudan-chudan lainnya. Sisa dari Chudan I pimpinan shodancho Poniman dikirim ke Subang dan dipekerjakan sebagai romusha pembangun pertahanan-pertahanan di pantai hingga Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP