Kegagalan Operatie Product Bikin Militer Belanda jadi Bulan-bulanan Pejuang Indonesia
Merdeka.com - Target Belanda melakukan aksi militer pertamanya pada 21 Juli 1947 tak pernah terwujud. Mereka malah menjadi bulan-bulanan aksi gerilya pejuang Indonesia.
Penulis: Hendi Jo
Pertengahan Agustus 1947. Lima truk militer Belanda beriringan meninggalkan kota Garut sore itu. Memasuki jalan raya Bayombong, mereka tiba-tiba dikepung kabut yang turun dari kaki Gunung Cikuray. Tak ada cara lain, konvoi pasukan yang akan bergerak ke Cikajang itu harus memelankan laju kendaraannya masing-masing.
Maut mulai mengincar saat rombongan memasuki tikungan tajam yang diapit tebing dan jurang. Dari tebing paling tinggi, berhamburanlah peluru-peluru dan granat. Akibatnya, tiga truk langsung terbakar dan puluhan serdadu terkapar. Sementara dua truk lainnya balik kanan dan langsung kabur kembali ke arah kota Garut dengan meninggalkan korban luka-luka dan beberapa serdadu tewas.
Odoy Soedarja, eks anggota Batalyon Garuda Hitam, masih ingat salah satu kawannya menghampiri seorang serdadu bule yang tengah sekarat. Setelah memeriksa kondisi sang prajurit muda itu yang ternyata mengalami luka sangat parah. Dia langsung mengarahkan pistol Vickers-ke arah batok kepala. Dor! Nyawa serdadu malang itu pun langsung melayang
"Saya ingat, sebelum meninggal, anak muda itu masih saja berteriak-teriak lirih: Mami! Mami!," kenang lelaki kelahiran Sumedang pada 1925 itu.
Belanda Dikecam
Pengadangan di jalan raya Cikajang hanyalah salah satu dari ratusan aksi TNI (Tentara Nasional Indonesia) pasca agresi militer dilakukan oleh militer Belanda pada 21 Juli 1947. Sejatinya, banyak aksi serupa terjadi juga di hampir seluruh palagan Jawa dan Sumatera. Aksi-aksi tersebut cukup membuat kedudukan militer Belanda berada di ujung tanduk.
Juli 1947, Operatie Product digelar. Dengan aksi militer itu, secara cepat Belanda berhasil menguasai sebagian Sumatera dan kota-kota penting di Jawa Barat serta Jawa Timur. Ratusan perkebunan dan pabrik, memang berhasil mereka kuasai. Namun secara keseluruhan, militer Belanda hanya menguasai wilayah kota dan pelosok tetap dikuasai kaum gerilyawan.
"Banyak ruginya mereka. Bahkan, dengan aksi itu mereka justru dikecam dunia internasional karena dianggap sudah menghancurkan Perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947," ungkap sejarawan Rushdy Hoesein.
Sementara itu, tujuan utama lain dari operasi militer itu yakni menghancurkan kekuatan TNI sama sekali tak terpenuhi. Alih-alih mencapai hasil maksimal, kekuatan TNI secara kilat mulai berhasil melakukan rekoordinasi kekuatan. Di beberapa tempat, serangan-serangan balik yang dilakukan TNI malah semakin intens.
Posisi Belanda Terkunci
Seorang Komandan Batalyon militer Belanda bernama Letnan Kolonel J. Flink dari Divisi C mengakui situasi itu. Sebulan lebih setelah Operatie Product, memang pasukannya bisa mempertahankan kondisi keamanan. Namun mulai 31 Agustus 1947 keadaan berubah.
"Batalyon saya mulai mendapat serangan-serangan gencar dan sistematis. Akibatnya, kami tidak hanya mengalami kekalahan demi kekalahan tapi juga meningkatnya kerugian personil di atas tingkat yang normal," katanya seperti dikutip Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948.
Pengakuan jujur Flink di atas dibenarkan eks panglima Divisi Siliwangi, A.H. Nasution. Menurut sang jenderal besar itu, pasca aksi tersebut, posisi pasukan Belanda yang menguasai kota-kota besar praktis terkunci.
Untuk bergerak dari satu pos ke pos lain, mereka harus menghadapi resiko pengadangan yang tak jarang menimbulkan korban banyak. Sementara jika mereka diam saja di pos tertentu, itu hanya akan menjadi makanan empuk serangan kaum gerilya yang bergelombang.
"Otomatis mereka hanya bisa menunggu. Insiatif serangan justru berpindah ke tangan kita," ungkap Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid ke-5.
Dalam kondisi terjepit, Belanda juga harus menghadapi kecaman internasional. Pada 4 Agustus 1947, atas desakan India, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta Belanda untuk tidak meneruskan aksi militernya.
Dewan Keamanan PBB juga mendesak Belanda untuk kembali ke meja perundingan. Maka empat bulan setelah seruan itu, kedua pihak yang bertikai untuk kesekian kali berunding di atas anjungan USS Renville, kapal angkut pasukan milik Amerika Serikat yang tengah berlabuh di Teluk Jakarta.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya