Gerah dengan Aksi Letnan Princen, Militer Belanda Bentuk Unit Khusus

Selasa, 26 Juli 2022 22:08 Reporter : Merdeka
Gerah dengan Aksi Letnan Princen, Militer Belanda Bentuk Unit Khusus Unit KST yang para prajuritnya terlibat dalam operasi perburuan J.C. Princen. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Angkatan Darat Kerajaan Belanda membentuk unit khusus untuk meringkus desersi Princen. Mereka diambil dari kesatuan Baret Hijau dan Baret Merah.

Penulis: Hendi Jo

Penyerangan ke pabrik teh Hardjasari pada 17 Juni 1949, bukan-lah satu-satunya aksi militer yang dilakukan oleh Letnan Dua Johannes Cornelis Princen. Beberapa bulan sebelumnya, eks serdadu Belanda itu pernah memimpin Pasukan Istimewa Kompi II Batalyon Kala Hitam (Divisi Siliwangi) tersebut menyerang pos-pos militer Belanda di Sukabumi (Padaasih, Baros dan Sukaraja).

Princen juga pernah melakukan penyergapan terhadap sebuah kereta api yang datang dari arah Cianjur di Stasiun Gandasoli. Sehingga menyebabkan dua polisi Belanda tewas seketika. Dia pun kerap mengadang iring-ringan konvoi tentara Belanda di sepanjang jalan raya Gekbrong (Cianjur).

Semua aksi itu menjadikan militer Belanda semakin geram dan bernafsu memburunya. Selain menghargai kepala Princen sejumlah f 50.000, pihak intelijen Belanda juga terus melangsungkan kampanye hitam. Termasuk menuduh Princen sebagai pelaku utama yang harus bertanggungjawab atas penyembelihan delapan serdadu Belanda di wilayah Sukabumi pada 28 Februari 1949.

"Tentu saja tuduhan itu tidak benar, 28 Februari 1949 aku masih berkeliaran di Jakarta sebagai utusan rahasia pimpinan Divisi Siliwangi untuk Johannes Leimena (Menteri Kesehatan RI),” ungkap Princen dalam otobiografinya, Kemerdekaan Memilih (disusun oleh Joyce van Fenema).

2 dari 3 halaman

Menurut Kemal Idris (eks atasan Princen di Batalyon Kala Hitam), kedelapan serdadu Belanda itu sejatinya tewas di tangan pasukan laskar Pembela Masyarakat pimpinan seorang jawara bernama Nuh.

Di kesatuan yang ada di bawah komandan kompi Hoesein Bachtiar itulah, pada Maret 1949, Princen memang pernah “dititipkan” sementara oleh Batalyon Kala Hitam.

Soal penghadangan di Gekbrong, Princen mengakui keterlibatannya. Namun dia menyangkal keras jika dirinya secara sengaja menjebak satu truk berisi tentara Belanda itu. Menurutnya, penghancuran satu seksi pasukan Belanda tersebut berlangsung 'wajar' saja, lazimnya penghadangan-penghadangan yang sering dilakukan TNI.

"Rupanya sopir truk itu lolos sampai ke Sukabumi dan melaporkan kejadian itu dengan menyebut namaku sebagai kambing hitam,” katanya.

Pihak Angkatan Darat Belanda bukannya tidak pernah berusaha meringkus Princen. Pada akhir Juni 1949, dua bataliyon prajurit dari kesatuan elit baret merah dan baret hijau nyaris meringkus Princen di wilayah Cisaat. Namun dengan lihai, Princen berhasil meloloskan diri dari kepungan dan menghindar ke markas Pasukan Istimewa di wilayah Cipakel.

"Mereka memburuku berdasarkan informasi orang-orang lokal yang menjadi mata-mata," ujar Princen.

3 dari 3 halaman

Bawa Princen Hidup atau Mati

Peristiwa itu membuat malu Engels. Dalam suratnya tertanggal 20 Juli 1949, kepada Panglima Militer Belanda di Jawa Letnan Jenderal D.C.Buurman van Vreeden, ia berjanji: "…di atas segala-galanya akan mengusahakan untuk menyingkirkan desersi Kopral Princen…” tulis Panglima Militer Belanda di Jawa Barat itu seperti dikutip oleh Joyce van Fenema dalam buku Poncke Princen: Een Kwestie van Kiezen.

Van Vreeden menjawab positif surat dari Engels. Pada tingkat tertinggi militer Belanda itu, secara mutlak diberikan prioritas untuk menemukan markas Pasukan Istimewa pimpinan Princen dan menghancurkannya. Bersamaan dengan disebarnya telik sandi, pasukan Belanda mulai menangkapi penduduk, menyiksa mereka untuk mendapatkan informasi soal keberadaan markas Pasukan Istimewa.

Hasil kerja keras itu membuahkan hasil. Saat lokasi buronan Princen sudah bisa dipastikan, eksekusi akhir pun mulai dilaksanakan dengan langkah pertama membentuk tim pemburu khusus untuk melumpuhkan Princen. Mayjen E. Engles lantas memerintahkan Letnan Henk Ulrici, komandan salah satu unit di KST (Kopassusnya-nya Belanda) untuk mengambil prajurit-prajurit KST pilihan masuk dalam tim pemburu tersebut.

Awal Agustus 1949, Letnan Ulrici berhasil membentuk sebuah tim komando buru sergap berkekuatan satuan setingkat kompi (sekitar 100 prajurit), terdiri dari orang Ambon, Minahasa, Timor, Sunda, Jawa dan sebagian kecil orang Belanda.

Unit yang diberi target membawa Princen hidup atau mati tersebut lantas diberi nama oleh Letnan Ulrici sebagai Kompi Eric (Compagnie Eric), nama sandi-nya saat menjadi partisan Belanda melawan Jerman.

"Kami harus cepat bergerak, sebelum gencatan senjata diberlakukan pada 10 Agustus 1949, Princen harus kami dapatkan," tutur Ulrici, seperti dikutip Joeri Boom dan Paul Rubsaam dalam Majalah De Groene Amsterdammer edisi 16 Agustus 1965.

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini