Gejolak Revolusi dan Perlawanan Pemuda Sulawesi Selatan Picu Kemarahan Westerling

Minggu, 4 Desember 2022 07:05 Reporter : Merdeka
Gejolak Revolusi dan Perlawanan Pemuda Sulawesi Selatan Picu Kemarahan Westerling Manai Sophiaan sebagai Pemimpin Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI). ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Setelah kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersiar di Makassar, para pemuda yang ada di wilayah tersebut segera membentuk Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI). Salah satunya dipimpin Manai Sophiaan. PPNI kemudian membentuk kelompok-kelompok distrik di dalam kota Makassar hingga 25 kelompok.

Bersamaan dengan itu, pasukan Australia mendarat di Makassar, diikuti oleh NICA. Kedatangan pasukan tersebut ternyata bermaksud untuk mendirikan pemerintahan sipil di Makassar secara diam-diam. Dalam buku Sejarah TNI Jilid I dijelaskan, mereka mendaratkan 400 anggota KNIL dan mulai menerapkan taktik memecah belah. Beberapa tokoh daerah pun berhasil dipengaruhi.

Taktik berbahaya itu kemudian dikenali oleh para pemuda seperti A. Rivai Paersi, Maulwi Saelan, dan Wolter Mongisidi. Selaku pimpinan Angkatan Muda Pelajar, Mongisidi mengajukan usul pada PPNI untuk mengadakan perlawanan secara keras.

Gayung pun bersambut. Usul mereka diterima dan dengan segara dilakukan perebutan tempat- tempat strategis di kota Makassar yang telah diduduki oleh NICA, seperti Station Radio Makassar, tangsi polisi di Jalan Gowa serta Hotel Expres.

2 dari 3 halaman

Tentara Australia Turun Tangan

Pada mulanya tentara Australia tidak menunjukkan upaya turun tangan. Namun, karena hasutan NICA, tentara Australia akhirnya menyerbu markas pemuda di Jonggaya. Para pemuda lantas mengalihkan perjuangan mereka ke luar kota. Pusat pemerintahan juga dipindahkan ke Watampone.

Dalam penyerbuan yang dilakukan oleh tentara Australia 40 orang pemuda pejuang gugur. Manai Sophiaan dan 40 pemuda lainnya berangkat ke Jawa untuk mengatur koordinasi perjuangan dan meminta bantuan. Kegiatan PPNI akhirnya dipindahkan ke Polongbangkeng dan dilaksanakan koordinasi dengan organisasi perjuangan yang ada di Limbung dan Bontonompo. Organisasi-organisasi perjuangan kemudian diperluas ke kota-kota lain.

Pada tanggal 26 Desember 1945 para pemuda mencoba menduduki kota Makassar. Tetapi belum berhasil. Mereka memperkokoh kekuatan dengan menggabungkan 16 organisasi perjuangan dalam satu organisasi, yakni Laskar Pemberontakan Republik Indonesia Sulawesi (LAPRIS) tanggal 17 Juli 1946.

Dalam buku Peranan dan Sumbangan Pemuda Bulukumba dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia, dijelaskan bagaimana susunan laskar tersebut yang terdiri atas Ranggong Dg. Romo sebagai Panglima, Makkaraeng Dg. Djarung sebagai Kepala Staf, R. W. Mongsidi sebagai Sekretaris Jenderal dengan senjata yang diperoleh dari hasil rampasan tentara Jepang yang ada di Bontonomo (Takalar).

3 dari 3 halaman

Gerakan Pembersihan ala Westerling

Pada November 1946 dibentuklah kesatuan yang diberi nama Laskar Brigade Pemberontakan Bulukumba Angkatan Rakyat (PBAR). Brigade ini menggerakkan semua aktivitas perlawanan rakyat terhadap Belanda. Daerah operasi mereka meliputi Makassar, Gowa, Jeneponto, Malino, Camba, dan lain-lain.

Sementara itu, ketika Belanda mulai mengadakan pembersihan di Makassar, Mongsidi memimpin pasukan bersenjata Harimau Indonesia. Pertempuran sengit pun terjadi di beberapa wilayah. Seperti Bukit Tallasa, Awasio, Longgosem dan Batua dan mengakibatkan kedudukan pasukan pejuang bertambah sulit.

Sementara itu, pasukan khusus Belanda yang dipimpin Kapten Raymond Westerling juga dikerahkan di kota dan sekitar Makassar. Mereka mengamuk dan melakukan pembersihan kaum gerilya pada akhir tahun 1946.

Gerakan pembersihan yang tidak memilah-milah ini dilaksanakan setelah terjadi pertempuran dengan pasukan Mongisidi di Borombong pada 3 November 1946. Korban dari gerakan pembersihan ini mencapai 40 ribu rakyat dan dikenal sebagai korban 40.000 rakyat Sulawesi Selatan.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini