Fatmawati kepada Bung Karno: Ke mana Mas Pergi, di situ Aku Berada

Minggu, 23 Oktober 2022 08:06 Reporter : Merdeka
Fatmawati kepada Bung Karno: Ke mana Mas Pergi, di situ Aku Berada Bung Karno dan Fatmawati. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Fatmawati menunjukkan rasa cinta dan sayangnya pada Sukarno. Kemanapun Bung Karno pergi, Fatmawati mengikuti jejak suaminya.

Termasuk ketika menemani Bung Karno dibawa para Golongan Muda ke Rengasdengklok. Dalam buku Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno,Fatmawati bercerita bagaimana para pemuda dengan berpakaian seram dan menyandang senjata berseru kepada Bung Karno.

"Berpakaianlah Bung……, sudah tiba saatnya."

Di antara para pemuda tersebut salah satunya adalah Sukarni. Mendengar suara keributan, Guntur anak dari Sukarno dan Fatmawati terbangun dari tidurnya. Bung Karno memberi kabar bahwa para pemuda akan membawanya ke luar kota.

"Fat, ikut apa tinggal?" tanya Bung Besar.

"Fat sama Guntur ikut. Ke mana Mas pergi di situ aku berada juga," jawab Fatmawati.

bung karno dan fatmawati

2 dari 3 halaman

Mengikuti Langkah Bung Karno

Maka setelah percakapan tersebut mereka bersiap-siap. Sementara itu, di luar sudah menunggu Fiat hitam kecil, di dalamnya sudah ada Bung Hatta. Mobil tersebut tiba di Rengasdengklok pukul 06.00 dan terlebih dahulu mampir ke rumah Camat.

Dalam perjalanan, mereka sempat beberapa kali singgah. Kediaman Djiauw Sie Song menjadi tujuan mereka. Di dalam rumah tersebut terjadi perundingan antara Bung Karno, Bung Hatta, Sukarni dan yang lainnya.

Beberapa orang seperti Sukarjo, Residen serta Achmad Soebardjo menyusul ke tempat tersebut.

Pada tanggal 16 Agustus Fatmawati dan Bung Karno beserta rombongan kembali ke Jakarta dan tiba pukul 08.00 malam. Mereka berangkat menuju kediaman Bung Hatta. Di kediaman Bung Hatta ternyata sudah ada S.K. Trimurti dan Sayuti Melik serta beberapa orang pemuda.

Sementara Bung Karno dan Bung Hatta pergi ke kediaman Laksamana Maeda, Fatmawati menyerahkan Guntur kepada Datuk dan Neneknya. Namun, dia mendengar kabar bahwa ayahnya diinterogasi oleh Kempetai (Polisi Militer Jepang) karena kepergian Bung Karno.

Pada subuh di tanggal 17 Agustus 1945 Bung Besar baru kembali ke kediamannya. Bung Karno masuk ke kamar dan berkata:

"Fat, besok kita umumkan Kemerdekaan bangsa kita," singkat Bung Karno dengan wajah yang sudah letih.

Fatmawati hanya bereaksi dalam hati, kurang lebih seperti ini.

"Alhamdulillah apa yang kami inginkan selama ini tercapai."

Akan tetapi, menurut kesaksian Fatmawati, Bung Karno memaksakan diri untuk menuliskan sesuatu. Beberapa kali dia merobek dan membuang surat tersebut. Pagi harinya sekitar pukul 06.00 Bung Karno tampak berbaring dan memejamkan mata.

3 dari 3 halaman

Penjahit Bendera

Pada pagi hari di kediaman Bung Karno sudah ramai sekali. Dalam keadaan tersebut, Fatmawati tidak sempat untuk mandi dan hanya cuci muka sembari Salat Subuh di kamarnya. Tepat pada pukul 09.00 Bung Hatta datang dan masuk ke kamar Bung Karno dan Fatmawati, ketiganya terlibat percakapan. Tidak lama kemudian, para pemuda mengetuk kamar tersebut dan memberi tahu bahwa persiapan sudah selesai. Bung Karno bangun dan mengenakan peci.

Ketika Fatmawati keluar dari pintu terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. Kemudian, Fatmawati berbalik ke kamar dan mengambil bendera yang Ia buat ketika Guntur masih dalam kandungan. Bendera tersebut merupakan hasil keputusan sidang Chuo Sangi In yang dilaksanakan secara tidak resmi pada 12 September 1944 dan dibuat dari kain yang diminta kepada Shimizu (Kepala Sendenbu).

Bendera itu kemudian diserahkan oleh Fatmawati kepada seseorang yang berada dekat dengan kamarnya. Beberapa orang yang diingat olehnya adalah Sudiro, Suhud, dan Kolonel Latief Hendradiningrat. Kemudian, Bung Karno, Bung Hatta, dan Fatmawati bergegas menuju tempat upacara.

Dalam upacara tersebut, Latief Hendradiningrat menjadi Komandan Upacara. Bung Karno lantas keluar dari corong dan Bung Hatta berada di sampingnya dengan posisi agak di belakang. Upacara diawali dengan pidato Bung Besar di hadapan massa dan dilanjutkan dengan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Fatmawati menyaksikan bagaimana para hadirin begitu terharu dalam upacara tersebut. Sementara itu, Latief Hendradiningrat mempersiapkan pengibaraan Sang Saka Merah Putih, Fatmawati dan S.K. Trimurti segera mengarah ke tiang bendera. Upacara bendera dipimpin oleh Latief dengan diiringi lagu Indonesia Raya, tanpa music. Semua tampak tertib dan khusyuk.

Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini