Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cerita TB Simatupang Selamat Setelah Mobilnya Ditembak Pesawat Belanda

Cerita TB Simatupang Selamat Setelah Mobilnya Ditembak Pesawat Belanda Peta Jalur yang dilalui TB Simatupang. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - Pagi buta pada 19 Desember 1948. T.B. Simatupang dibangunkan suara-suara pesawat terbang. Saat sinar matahari mulai menyinari, Simatupang melihat beberapa pesawat terbang Belanda melalui jendela.

Tanpa mandi dan cuci muka, Simatupang bergegas naik mobil untuk berkunjung ke Markas Besar Komando Djawa (MBKD), dan Istana.

Menyikapi serangan Belanda, para pemimpin Republik Indonesia memutuskan tetap bertahan di kota. Termasuk Sukarno dan Hatta.

Setelah mengetahui hal itu, Simatupang mengarah ke daerah Kutu yang merupakan markas baru MBKD. Saat menuju Kutu dengan menggunakan mobil, terlihat pesawat terbang Belanda di udara.

Pesawat itu menembaki mobil yang ditumpangi Simatupang sebelum berhasil tiba di jembatan Gondolayu. Tembakan dari pesawat terbang mengenai bagian belakang mobil hingga terbakar.

Untungnya, Simatupang berhasil keluar dari mobil yang terbakar meskipun ranselnya tertinggal. "Rupanya saya masih akan hidup lama," ungkap T. B. Simatupang dalam buku Laporan Dari Banaran.

Setelah berhasil keluar dari mobil, Simatupang melihat seorang bernama Sasra Yang berjalan cepat menuju jurang Kali Code. Rupanya, Sasra ingin menyeberang sungai. Tapi tidak melalui jembatan. Alasannya, dapat terlihat Belanda.

"Dengan tidak berpikir panjang saya mengikutinya," kata T. B. Simatupang.

Simatupang dan Sasra berhasil melintasi sungai itu. Mereka berusaha melewati jalan raya Malioboro melalui perkampungan. Lalu keduanya berjalan ke arah Demakijo. Perjalanan Simatupang ke luar dari kota Yogyakarta memakan waktu sekitar dua jam.

Mencari Kejelasan di Istana

Sebelum meninggalkan kota Yogyakarta, Simatupang mengunjungi istana untuk mencari kejelasan mengenai nasib para pemimpin Republik Indonesia ketika Belanda berhasil menguasai kota.

Anggota kabinet mulai berkumpul di serambi belakang untuk melakukan sidang. Ternyata Simatupang dan Jenderal Soedirman tidak diundang dalam sidang. Jenderal Soedirman memilih meninggalkan istana. Disusul Simatupang pergi menuju MBKD. Namun MBKD dalam keadaan kosong. Dia bertemu Sukanda yang memberitahukan bahwa MBKD telah dipindahkan ke luar kota. Tepatnya di daerah Kutu.

Simatupang kembali ke Istana saat para Menteri mulai pulang. Dia mendapatkan informasi bahwa Kabinet memutuskan tidak meninggalkan kota. Mendengar itu, Simatupang mencari penjelasan mengenai keputusan kabinet. Namun tidak ada yang memberikan jawaban secara jelas.

"Saya tanya kenapa, tidak ada yang memberi jawab yang jelas," ungkap Simatupang.

Rupanya Kabinet berpendapat jika para pemimpin republik pergi ke luar kota, risiko mereka tertawan tetap ada. Selain itu, mereka berpendapat jika para pemimpin ditangkap di luar kota, akan mendatangkan dampak lebih buruk dibandingkan tertangkap di dalam kota.

"Itu kurang lebih yang dapat saya tangkap, sebab seperti saya catat tidak seorang pun yang bersedia memberikan keterangan yang lengkap," kata Simatupang.

Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP