Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Banjir Darah di Jembatan Kali Progo

Banjir Darah di Jembatan Kali Progo Jembatan Progo. ©2023 Merdeka.com

Merdeka.com - Selama Perang Kemerdekaan II (1948-1949), Sungai Progo menjadi saksi pengorbanan ribuan pejuang Indonesia.

Oleh: Hendi Jo

Jika menuju Temanggung melalui kota kecil bernama Kranggan di Jawa Tengah, pasti akan melalui sebuah jembatan tua bernama Jembatan Kali Progo. Sayangnya, hari ini para pelintas tak akan bisa menyaksikan wujud asli jembatan tersebut.

Sekitar lima tahun lalu, Jembatan Kali Progo yang dibangun pada era Hindia Belanda itu runtuh akibat terhantam air sungai yang tengah banjir.

"Memang jembatan itu resminya sudah tak dipakai lagi. Hanya digunakan untuk memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus dan hari pahlawan 10 November saja," ungkap Darmadi, salah satu pedagang durian yang mangkal di sekitar wilayah itu.

Secara historis, Jembatan Kali Progo memiliki cerita tersendiri. Sekitar dua meter dari mulut jembatan terdapat tugu kokoh berwarna kelabu putih. Itu sebuah tanda peringatan bagi para korban pembunuhan yang dilakukan militer Belanda pada akhir 1948 hingga pertengahan 1949. Ada tulisan di dalamnya berbunyi:

Aku ta' ketjewa, aku rela Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja: Indonesia merdeka, adil, makmur dan bahagia.

Temanggung, 22/12-48-10/8-49

Pembantaian di Jembatan Kali Progo

Bambang Purnomo sempat memberikan kesaksiannya, dua tahun sebelum jembatan itu runtuh. Menurut mantan pejuang Republik di Temanggung itu, apa yang diinformasikan di tugu itu memang benar adanya.

Beberapa hari setelah agresi militer Belanda II hingga Agustus 1949, ratusan (bahkan disebutkan di tugu itu: 1.200) orang yang dituduh sebagai bagian dari kaum republik dihabisi nyawanya di atas Jembatan Kali Progo oleh militer Belanda.

"Mereka mendatangi kampung, pasar, dan rumah warga yang dianggap secara sembarang sebagai orang-orang TNI lalu membawa ke jembatan dan langsung dieksekusi," ujar lelaki kelahiran tahun 1924 itu

Hal senada juga diungkapkan oleh Parto Dimedjo (86). Sejak militer Belanda menyerang Temanggung pada Desember 1948, aksi pembantaian selalu terjadi di atas jembatan itu.

"Kalau mau berangkat ke sekolah, hampir setiap hari saya selalu melihat ceceran darah di sepanjang jembatan Kali Progo," kenangnya.

Korbannya Rakyat Tak Berdosa

Pada suatu waktu menjelang sore, Parto kecil menyaksikan sekumpulan tentara Belanda menyiksa seorang lelaki yang matanya ditutup kain hitam. Melihat pemandangan itu, Parto lari tunggang-langgang meninggalkan bebek-bebek yang sedang digembalakannya.

"Tapi belum jauh saya lari, sudah terdengar bunyi tembakan. Selanjutnya saya tidak tahu lagi nasib orang itu," ujarnya dalam bahasa Jawa.

Menurut Bambang Purnomo, sejatinya sebagian besar korban pembantaian merupakan rakyat biasa. Kebanyakan dari mereka, ditembak mati karena memberi makan dan minum para gerilyawan republik. Atau hanya memberikan beranda rumahnya sebagai tempat istirahat sejenak para pejuang Indonesia. 

Namun dia pun tak menafikan jika banyak juga pejuang Indonesia yang gugur di atas jembatan tua itu.

Salah satu korban yang dikenalnya sangat baik adalah Mayor Sarno Samsiatmodjo, salah satu komandan batalyon di Temanggung. Sarno gugur setelah dia tertangkap lantas dieksekusi di atas Jembatan Kali Progo. 

Setelah ditembak, mayat sang mayor lantas dihanyutkan ke Sungai Progo dan hingga kini tak pernah jelas nasib jasadnya.

Lolos dari Maut

Jika Mayor Sarno tak bisa menghindar dari pembantaian, tak demikian dengan Sukomihardjo. 

Mata-mata TNI yang juga saat itu berprofesi sebagai pamongpraja di Desa Kowangan bisa lolos dari maut di Jembatan Kali Progo dan sempat hidup hingga tahun 1990-an.

Ceritanya, Suko tertangkap dalam suatu operasi pembersihan. Setelah dijebloskan ke dalam penjara selama beberapa minggu, dia mendapat giliran untuk dieksekusi. Setelah rambutnya digunduli, bersama tiga rekannya, Suko dibawa dengan sebuah traktor ke Jembatan Kali Progo.

Begitu tiba di Kranggan, mereka berempat digiring ke tengah Jembatan Kali Progo. Di sana Suko dan ketiga kawannya dijejerkan dengan posisi agak menyerong. 

Dor! Senjata menyalak. Orang di belakang Suko pun terjatuh ke Sungai Progo. Berikutnya giliran Suko yang dibidik. Tetapi sebelum peluru ditembakkan, dia terjun ke bawah jembatan dan langsung disambut limpahan coklat air Sungai Progo yang tengah banjir.

Untunglah Sukomihardjo pandai berenang. Setelah berjuang keras mengatasi limpahan air banjir Sungai Progo, dia pun berhasil menepi dan lari menuju sebuah markas pasukan republik. Sejak itulah, Sukomihardjo mengganti namanya dan melanjutkan kiprahnya sebagai pejuang Republik hingga pada 1984. 

Demikian menurut penjelasan T. Wedy Utomo dalam Kisah-Kisah Perjuangan Perang Kemerdekaan 1945-1949.

(mdk/ian)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP