Indonesia dikenal sebagai surga kuliner dengan berbagai makanan khas yang menggugah selera. Namun, tidak semua hidangan tradisionalnya mendapat apresiasi positif di tingkat internasional. Dalam laporan terbaru TasteAtlas, platform yang berbasis di Kroasia dan dikenal sebagai panduan makanan tradisional dunia, dua makanan khas Indonesia masuk dalam daftar 100 makanan dengan ulasan terburuk di dunia pada tahun 2025.
Advertisement
Tinutuan dan Paniki: Dua Kuliner Indonesia Masuk dalam Daftar
Berdasarkan data yang dirilis per Januari 2025, TasteAtlas mencatat bahwa tinutuan dan paniki masing-masing berada di peringkat ke-16 dan 36. Tinutuan, hidangan bubur khas Manado, Sulawesi Utara, memperoleh skor 2,3 dari 5. Bubur ini dibuat dari campuran beras dengan berbagai sayuran seperti bayam, labu, singkong, dan jagung.
“Tinutuan biasanya disajikan untuk sarapan, dan orang-orang biasanya berbondong-bondong ke warung-warung di pagi hari untuk mendapatkan sarapan bergizi ini,” tulis TasteAtlas. Meskipun dikenal sebagai makanan bergizi, konsistensinya yang cair dan cita rasanya yang khas tampaknya tidak sesuai dengan selera sebagian besar penilai internasional.
Sementara itu, paniki, hidangan khas Sulawesi Utara lainnya, menggunakan kelelawar sebagai bahan utama. Dalam penyajiannya, kelelawar dipanggang untuk menghilangkan bulu, kemudian dibersihkan, dipotong, dan direbus dengan santan serta bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, daun kari, dan cabai.
“Hidangan ini diakhiri dengan penambahan bawang goreng, daun bawang, serai, serta santan. Paniki biasanya disajikan dengan nasi putih,” jelas TasteAtlas. Walaupun eksotis, penggunaan kelelawar sebagai bahan utama mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat makanan ini sulit diterima oleh khalayak internasional.
Advertisement
Blodpalt: Makanan dengan Ulasan Terburuk
Di peringkat pertama daftar ini adalah blodpalt, pangsit tradisional asal Swedia dan Finlandia. Makanan ini dibuat dari tepung gandum hitam atau jelai yang dicampur dengan darah hewan, kemudian diisi daging babi asap dan dimasak dalam kaldu.
“Pangsit blodpalt biasanya dinikmati sebagai lauk yang disertai daging babi asap, mentega, dan selai lingonberry,” tulis platform tersebut. Meski memiliki penggemar setia di negara asalnya, komposisinya dianggap tidak lazim oleh banyak orang di luar Skandinavia.
Advertisement
Makanan dengan Ulasan Terburuk di Asia Tenggara
Sebelumnya, pada Agustus 2024, TasteAtlas juga merilis daftar makanan dengan ulasan terburuk di Asia Tenggara. Dari Indonesia, empat makanan berhasil masuk daftar tersebut. Tinutuan berada di peringkat ke-4 dengan skor 2,4, disusul paniki di peringkat ke-5 dengan skor 2,5.
Ada juga acar kuning di peringkat ke-8 dengan skor 2,7. Makanan pendamping ini terbuat dari campuran mentimun, wortel, cabai rawit, cuka, gula, dan rempah-rempah khas lainnya. Di peringkat ke-10 terdapat lawar, hidangan Bali yang terdiri dari daging dan sayuran yang dicampur dengan kelapa parut, terasi, dan darah babi.
“Lawar tradisional dibuat dengan daging babi, tapi ayam, bebek, atau sapi juga dapat digunakan. Darah babi biasanya ditambahkan untuk memberi warna dan rasa pada sebagian besar variasi hidangan ini,” demikian catatan TasteAtlas.
Meskipun tinutuan dan paniki mendapat ulasan kurang baik, kuliner khas Indonesia tetap memiliki daya tarik tersendiri bagi pecinta makanan tradisional. Selera setiap individu dan budaya memang berbeda, sehingga penilaian semacam ini tidak selalu mencerminkan kualitas atau nilai budaya suatu hidangan.
Indonesia sepatutnya tetap bangga dengan keanekaragaman kuliner yang dimilikinya. Penilaian negatif dari platform internasional dapat menjadi motivasi untuk memperkenalkan cita rasa asli Indonesia kepada dunia dengan pendekatan yang lebih inovatif.
Sebagai pecinta kuliner, mari kita terus mendukung dan melestarikan kekayaan tradisional ini agar tetap dikenal dan dihargai, baik di dalam maupun luar negeri.