Pagoda Leifeng adalah hadiah dari kaisar Qian Chu untuk Huang Fei, selir kecintaannya yang sedang hamil. Tetapi berabad-abad kemudian, pagoda ini jarang sekali dikaitkan dengan pasangan bangsawan dari periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan tersebut. Ada pasangan kekasih lain yang kisah cintanya lebih identik dengan Pagoda Leifeng. Mereka adalah Bai Suzhen dan Xu Xien.
Kisah cinta Bai Suzhen si ular putih dan Xu Xien adalah salah satu legenda yang paling dikenal di China. Konon riwayat mereka berlatar di Hangzhou. Mereka bertemu dan jatuh cinta di tepi Danau Barat (Xi Hu). Pagoda Leifeng menjadi saksi bisu cinta mereka terenggut oleh Fahai. Pagoda ini bahkan pernah runtuk karena Bai Suzhen, berabad-abad setelah kisahnya menjadi legenda yang tersebar dari mulut ke mulut. Jadi, bagaimana Pagoda Leifeng bisa tersangkut dalam legenda ular putih? Berikut ini kisahnya.
Advertisement
Dahulu kala, ada seorang pemuda lugu bernama Xu Xian. Dia adalah seorang calon tabib yang tengah belajar ilmu pengobatan. Suatu hari Xu Xian membeli tangyuan (sejenis bola ronde dari China) dari seorang pedagang di tepi Danau Barat. Xu Xian tak tahu kalau si penjual adalah jelmaan Lu Dongbin, salah satu dari Delapan Dewa dan tangyuan yang dia jual adalah pil kaeabadian. Setelah memakan tangyuan, Xu Xian tak merasakan lapar sedikit pun selama tiga hari. Dia kembali ke si penjual dan menanyakan perihal tangyuan aneh tersebut. Mendengar ini, Lu Dongbin terbahak, lantas mengajak Xu Xian ke tepi danau. Dibaliknya tubuh Xu Xien agar pil keabadian yang dia telan keluar.
Tak disangka, pil yang dimuntahkan Xu Xian ditemukan oleh seekor ular putih yang sedang bertapa di dasar danau. Setelah memakan pil tersebut, si ular mendapatkan kesaktian yang setara dengan bertapa selama 500 tahun. Dari sanalah takdir si ular putih dan Xu Xian terpaut. Sementara itu, seekor kura-kura yang juga sedang bertapa di dasar danau menyimpan kedengkian karena tak berhasil mendapatkan satu pil keabadian. Kelak, kura-kura ini akan menjadi penghalang takdir si ular putih dan Xu Xian.
Eva Huang sebagai Bai Suzhen dalam The Sorcerer and The White Snake. © Distribution WorkshopSuatu hari, nasib mempertemukan si ular putih dengan seekor ular hijau hampir dibunuh oleh pengemis. Merasa iba, ular putih menyelamatkannya dari kematian. Si ular hijau sangat bersyukur dan bersumpah untuk mengikuti penyelamatnya sampai akhir zaman. Kedua ular ini lantas saling mengangkat saudara dan bertapa untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Bai Suzhen (Eva Huang) dan Xiaoqing (Charlene Choi) dalam The Sorcerer and The White Snake. © Distribution Workshop
Delapan belas tahun kemudian, keduanya menjelma menjadi dua wanita cantik bernama Bai Suzhen dan Xiaoqing. Pada perayaan Qingming, keduanya berjalan-jalan di tepi Danau Barat dan bertemu dengan Xu Xian. Tiba-tiba hujan lebat mengguyur dan Xu Xian yang baik hati memberikan payungnya kepada kedua wanita yang baru ditemuinya itu.
Advertisement
Ukiran Ular Putih di Pagoda Leifeng gambarkan pertemuan Bai Suzhen dan Xu Xian. © Hangzhou Tourism Commission
Singkat kata, Xu Xian dan Bai Suzhen jatuh cinta pada pandangan pertama. Kedua makhluk beda dunia itu lantas menjalin asmara dan memutuskan untuk menikah. Mereka membuka sebuah toko obat di Zhenjiang dan dikenal sebagai pasangan murah hati yang sering membagikan rempah obat bagi orang tak mampu.
The Sorcerer and The White Snake. © Distribution Workshop
Sementara itu, si kura-kura yang menyimpan dendak kesumat kepada Bai Suzhen telah menyelesaikan pertapaannya dan menjelma menjadi seorang biksu bernama Fahai. Fahai berniat memisahkan Bai Suzhen dan suaminya sebagai upaya balas dendam. Dia mengatur sebuah rencana licik untuk membongkar jati diri Bai Suzhen.
Jet Li sebagai Fahai dalam The Sorcerer and The White Snake. © Distribution Workshop
Fahai membujuk Xu Xian agar memberikan anggur xionghuang kepada istrinya saat perayaan Duanwu. Setelah meminum anggur tersebut, Bai Suzhen langsung kembali ke wujud aslinya, seekor ular raksasa berwarna putih. Xu Xien yang begitu terkejut mengetahui istrinya siluman pun meregang nyawa.
Advertisement
The Sorcerer and The White Snake. © Distribution Workshop
Bai Suzhen dan Xiaoqing berkelana ke Gunung Emei untuk mencuri rempah ajaib yang bisa mengembalikan kehidupan. Akhirnya Xu Xian bisa hidup kembali berkat rempah tersebut. Ternyata dia masih mencintai Bai Suzhen dan tak peduli meskipun istrinya itu bukan manusia. Namun justru Fahai yang tak bisa menerima kenyataan.
Advertisement
Sang biksu pendengki lantas menangkap Xu Xian dan memenjarakannya di Kuil Jinshan. Bai Suzhen dan Xiaoqing bertarung melawan Fahai. Dengan kesaktiannya, Bai Suzhen mendatangkan banjir bandang yang menenggelamkan kuil dan daerah sekitarnya. Tetapi kekuatan Bai Suzhen melemah, sebab dia tengah mengandung buah cinta dengan Xu Xian. Sementara Xiaoqing masih kalah pengalaman untuk mengalahkan Fahai.
Seni ukir Dongyang di Pagoda Leifeng menggambarkan Bai Suzhen mendatangkan banjir. © Michael Lai
Bai Suzhen berhasil dikalahkan oleh Fahai, sementara Xiaoqing melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa. Xu Xian berhasil lolos dari kurungan, namun tetap tak bisa bersatu dengan istrinya. Dia hanya bisa merawat anak yang baru dilahirkan Bai Suzhen. Sementara Bai Suzhen sendiri dikurung oleh Fahai di dasar Pagoda Leifeng.
Ukiran Ular Putih di Pagoda Leifeng. © Hangzhou Tourism Commission
Dua puluh tahun kemudian, Xu Mengjiao, putra Xu Xian dan Bai Suzhen tumbuh menjadi pemuda yang cerdas. Pria muda ini baru saja lulus ujian untuk menjadi pejabat negara. Dia kembali ke kampung halaman untuk mengunjungi ayahnya yang sudah tua. Dari kunjungan tersebut, Mengjiao mengetahui riwayat ibunya. Di saat yang sama, Xiaoqing kembali untuk menantang Fahai setelah bertapa selama puluhan tahun. Kali ini, kesaktiannya berhasil mengungguli Fahai. Kali ini Fahai yang melarikan diri dan bersembunyi di dalam perut kepiting. Karena itulah, di bagian dalam cangkang kepiting selalu ada cairan kental berwarna oranye. Konon itu adalah jubah biksu Fahai yang sampai hari ini masih bersembunyi di sana.
Setelah Xiaoqing berhasil mengalahkan Fahai, dia masih tak mampu membebaskan kakaknya dari Pagoda Leifeng. Kali ini Mengjiao yang melakukan pengorbanan, memohon kepada para dewa di langit agar membebaskan ibunya. Rupanya doa-doa Mengjiao membuat para dewa iba. Pagoda Leifeng pun runtuh atas kehendak langit. Bai Suzhen, Xu Xian, dan Xu Mengjiao akhirnya berkumpul kembali.
Advertisement
Penampakan Pagoda Leifeng di tahun 1910. © Wikimedia Commons.
Pagoda Leifeng. © Nipic.com/anginum
Terlepas dari kaitannya dengan legenda siluman ular putih, Pagoda Leifeng memang benar-benar runtuh pada tahun 1924. Secara tak langsung, Bai Suzhen yang menjadi penyebabnya. Gara-gara legenda ular putih, Pagoda Leifeng dipercaya memiliki kekuatan penyembuh dan bisa melindungi ibu hamil dari keguguran. Akibatnya banyak warga yang mencuri batu bata dari pagoda untuk dijadikan serbuk obat. Akhirnya pagoda pun runtuh. Pembangunan kembali baru dilakukan pada tahun 1999 dan rampung pada tahun 2002. Di dalam pagoda yang baru, kita bisa menemukan ukir-ukiran yang menceritakan legenda ular putih.