Membagi Waktu Bermain dengan Anak Kala WFH
Merdeka.com - Semenjak pandemi COVID-19 melanda, hampir semua kalangan pekerja harus beradaptasi untuk tetap bisa bekerja dari rumah (work from home / WFH). Perubahan teknis tersebut tentu mempengaruhi beberapa hal, termasuk aktivitas dalam rumah saat bersama dengan anak.
Untuk itu, dilansir dari antaranews.com, dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, seorang dokter spesialis anak dari FKUI-RSCM, membagikan kiat membagi waktu untuk bermain bersama si kecil saat orang tua sedang bekerja di rumah / WFH.
“WHO dan UNICEF menyarankan orang tua untuk menyempatkan setidaknya waktu 30 menit bersama anak, per anak, untuk melakukan quality time. Ini penting sekali untuk membangun hubungan berkualitas itu, karena bonding akan ikut mengembangkan kemampuan sosial anak dan fungsi-fungsi lainnya, dan jangan sampai kita sebagai orang tua terlewat momen-momen itu,” ujar dr. Mesty.
Meski WFH tampak lebih menantang, namun diharapkan para orang tua untuk tetap bisa membedakan antara waktu bekerja dengan waktu bermain dengan si kecil. Lebih lanjut, dr. Mesty mengatakan jika orang tua harus terlibat dalam tumbuh kembang anak, salah satunya lewat kegiatan bermain bersama.
“Caranya bagaimana? Misalnya, orang tua bisa membuat spot khusus yang bisa diidentifikasi oleh anak bahwa orang tuanya sedang bekerja, sehingga anak juga tahu kalau ini adalah waktunya ayah-bunda bekerja, sehingga harus bermain sendiri untuk sementara waktu,” papar dr. Mesty.
Lalu bagaimana jika ada pekerjaan yang mendesak/urgent di waktu bermain? dr. Mesty menjelaskan, “Kita harus minta maaf karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Situasi di rumah tidak harus selalu ideal, yang penting adalah bagaimana kita bisa komunikasikannya dengan anak-anak”.
Kalaupun anak terpaksa harus bermain sendiri, orang tua perlu mengetahui adanya mainan-mainan yang sesuai dengan usia dan fase pertumbuhan anak. Tetapi jika terlalu terobsesi dan berlebihan dalam memberikan stimulasi, hal tersebut malah tidak baik.
“Ketika anak sedang bermain sendiri, anak juga tidak boleh untuk di-over-stimulate, karena anak harus mengetahui adanya rasa bosan dan akhirnya bisa bermain sendiri dengan apa yang ada di sekelilingnya untuk memacu imajinasi dan kreativitasnya,” imbuh dr. Mesty.
Lebih jauh, dr. Mesty juga menyampaikan tips terkait tumbuh-kembang anak, “Carilah mainan yang merangsang sensori mereka, sehingga anak bisa mengenal tekstur, bermain outdoor yang menunjang keseimbangan dan menyiapkan kemandirian dan hubungan sosial mereka. Lalu, bermain langsung dan bertemu orang, yang menghasilkan interaksi dua arah yang penting bagi kemampuan sosial anak agar terasah,” jelas dr. Mesty.
Oleh karenanya, sangat penting bagi para orang tua untuk memiliki kecakapan dan menemukan cara yang paling tepat untuk menyeimbangkan antara waktu untuk bekerja, yang kemudian juga harus selaras dengan menyempatkan waktu berkualitas untuk anak.
(mdk/ttm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya