Kenapa Orang Zaman Dulu Pelit Senyum Saat Difoto?

Senin, 21 Oktober 2019 04:05 Reporter : Tantri Setyorini
Kenapa Orang Zaman Dulu Pelit Senyum Saat Difoto? Ilustrasi foto jadul. ©Pixabay

Merdeka.com - Menurut laporan TIME, foto-foto pertama yang ditemukan berasal dari tahun 1820-an. Sejak itu fotografi pun berkembang menjadi bagian dari seni, aktivitas sosial, dan dokumentasi sejarah.

Satu hal yang menjadi ciri khas dari foto-foto di zaman dulu adalah ekspresi kaku tanpa senyum. Memang ada satu atau dua foto lawas yang menunjukkan senyum lebar. Namun hal ini termasuk jarang ditemui. Foto dengan senyuman baru mulai populer di tahun 1920-an hingga 1930-an.

Jadi apa yang menyebabkan orang-orang zaman dahulu begitu pelit senyum saat berpose di depan kamera? Berikut ini penjelasannya menurut pakar sejarah dan fotografi.

1 dari 4 halaman

Masalah Kesehatan Gigi

Menurut Angus Trumble, direktur National Portrait Gallery Canberra, Australia dan penulis A Brief History of the Smile One, salah satu kemungkinan alasan orang-orang zaman dahulu tak pernah tersenyum di dalam foto adalah masalah kesehatan gigi.

Zaman dahulu kesehatan gigi termasuk kemewahan tersendiri. Gigi berlubang, hitam, atau bahkan ompong merupakan hal biasa pada masa itu.

Walaupun dianggap biasa, bukan berarti orang-orang zaman dahulu bangga dengan kondisi kesehatan mulut mereka. Terutama jika harus dipamerkan di depan kamera.

"[Saat itu] orang-orang memiliki gigi jelek, atau malah tidak punya gigi sama sekali, jadi inilah yang menghalangi mereka membuka mulut di lingkungan sosial," katanya.

Trumble juga berpendapat meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya kesehatan gigi ikut menjadikan senyum di foto semakin populer.

2 dari 4 halaman

Kecanggihan Teknologi Fotografi yang Masih Terbatas

Satu lagi penjelasan atas langkanya senyuman di foto-foto abad 19 adalah lamanya proses pengambilan foto. Karena teknologi fotografi yang masih belum secanggih sekarang, orang-orang zaman dulu lebih memilih pose standar yang lebih mudah dipertahankan lebih dari beberapa detik. Berpose sambil tersenyum jelas kurang nyaman.

"Sebagian dari penjelasan itu memang benar," tutur Todd Gustavson, kurator teknologi di George Eastman Museum. "Jika Anda menilik proses-proses awal di mana Anda menggunakan waktu eksposur yang lama, Anda akan memilih pose yang nyaman."

Namun, Gustavson menambahkan kurangnya kecanggihan kamera pada zaman itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pasalnya teknologi yang memungkinkan waktu eksposur dalam hitungan detik sudah ada di tahun 1850-an, meskipun belum dikenal luas.

3 dari 4 halaman

Norma dan Tradisi yang Berlaku

Lebih jauh, para pakar menyebut norma dan tradisi yang berlaku saat itu sebagai alasan kelangkaan senyuman di foto-foto jadul. Menurut mereka, saat itu konsep fotografi masih mengadopsi pakem yang digunakan pada seni lukis tradisional. Terutama pakem seni lukis potret.

 /></p>
<p style=Pixabay

Banyak orang pada zaman dahulu beranggapan senyuman di foto atau lukisan kurang pantas. Lukisan para santo mungkin digambarkan dengan senyum lembut nan samar. Namun senyuman lebar kerap dikaitkan dengan hal-hal negatif.

"Senyuman lebar diasosiasikan dengan kegilaan, mesum, berangasan, mabuk, semua kondisi yang tidak dianggap sopan," jelas Trumble lagi.

4 dari 4 halaman

Agar Tampak Terhormat

Orang-orang zaman dahulu menganggap fotografi jauh lebih serius daripada manusia modern. Demi mendapatkan selembar foto diri atau keluarga, mereka akan pergi ke studio. Fotografer akan menyiapkan latar elegan dan meminta klien untuk berpose serius.

Lewat pengaturan seperti ini fotografer diharapkan untuk memproduksi foto bernuansa formal. Klien menginginkan foto diri yang membuat mereka tampak terhormat dan berwibawa, sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan untuk sesi pemotretan.

Jadi, kira-kira itulah alasan orang-orang zaman dahulu enggan tersenyum saat dipotret. [tsr]

Baca juga:

Topik berita Terkait:
  1. Fakta Unik
  2. Fotografi
  3. Sejarah
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini