Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Hakarl, masakan berbau paling busuk se-Islandia

Hakarl, masakan berbau paling busuk se-Islandia Hakarl. ©2014 Getty Images/Emmmanuel Dunand

Merdeka.com - Umumnya makanan memiliki aroma yang nikmat dan menggoda selera. Karena salah satu daya tarik utama dari sebuah makanan, selain dari penyajiannya yang baik adalah dari aromanya yang membangkitkan nafsu makan. Tetapi ada juga beberapa makanan di dunia yang memiliki bau tak sedap, bahkan tak tertahankan. Walaupun begitu makanan-makanan ini masih bertahan hingga sekarang karena merupakan bagian dari tradisi.Salah satu makanan paling berbau busuk yang ada di dunia adalah hakarl. Makanan ini adalah hidangan khas dari Islandia. Menurut Wikipedia makanan ini merupakan hidangan wajib dalam Thorrablt, festival pertengahan musim dingin Islandia yang berawal dari abad 19.

Makanan ini terbuat dari daging ikan hiu Greenland. Ikan ini terkenal mengandung konsentrasi racun yang sangat tinggi dan memiliki bau sangat busuk. Bahkan petualang kuliner dari Travel Channel, Andrew Zimmern menggambarkan bau hakarl yang mengingatkannya pada beberapa hal paling mengerikan yang pernah dia cium dalam hidupnya.

tantri setyorini?20140811043053

Photo by hakarl.is

tantri setyorini?20140811043339

Photo by www.irishtimes.com

Untuk membuat hakarl, daging ikan hiu dikubur dalam timbunan batu kerikil untuk menghilangkan semua cairan, difermentasi, kemudian dipotong-potong, dan digantung agar benar-benar kering. Daging ikan hiu Greenland memang harus diolah dan diawetkan dahulu sebelum dikonsumsi, sebab ikan predator tersebut mengandung racun. Proses pengolahan ini berlangsung selama berbulan-bulan. Jika sudah jadi, hakarl akan berbau seperti ikan busuk dan amonia. Biasanya untuk memudahkan memakan hakarl disediakan pula minuman khusus.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba kuliner ekstrem yang satu ini?

  (mdk/tsr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP