Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Yonatan Netanyahu, calon filsuf tumbal Operasi Entebbe

Yonatan Netanyahu, calon filsuf tumbal Operasi Entebbe Foto terakhir Yonatan Netanyahu.(c) dokumentasi keluarga/IDF/BBC.co.uk

Merdeka.com - Pembajakan pesawat Air France oleh pegiat Palestina di Entebbe, Uganda, 27 Juni 1976 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah terorisme ideologis. Tindakan milisi pembebas Palestina itu membuat banyak negara menciptakan satuan khusus anti-teror, terutama buat menanggulangi pembajakan, berkaca dari pengalaman Israel.

Tragisnya, salah satu sosok utama yang memimpin operasi itu malah tewas. Dialah Letnan Kolonel Yonatan Netanyahu, kakak dari Benjamin Netanyahu yang kini menjabat perdana menteri Israel. Kisah hidupnya dijadikan laporan khusus harian the New York Times edisi 25 Januari 1981.

 

Anak tertua keluarga Netanyahu ini sebetulnya sempat tidak berniat jadi tentara. Pria kelahiran Kota New York, 13 Maret 1946 itu pernah meniti karir sebagai mahasiswa.

Dia menempuh pendidikan di Universitas Harvard, mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu matematika dan filsafat. Nilai-nilainya pun bagus.

Yonatan, biasa dipanggil Yoni, pertama kali masuk dunia tentara ketika menjalani wajib militer dan ikut perang Enam Hari. Namun selepas perang, dia tidak melanjutkan karir, lalu kuliah di Amerika Serikat dan menikahi kekasihnya Tuti.

Pada 1967, ketika masih menempuh studi di  kampus, dia gelisah karena melihat Israel masih menghadapi Mesir. Yoni akhirnya memutuskan gabung militer kembali dan masuk di satuan brigade parasut.

Karena keceradasannya, Yoni ditarik pasukan khusus Sayeret Matkal.

Prestasinya di satuan ini terhitung mentereng.

Dia menjadi pahlawan nasional karena upaya penyelamatan tentara lain ketika Israel melawan Suriah di Perang Yom Kippur 1973 dan berhasil merebut Dataran Tinggi Golan. Yoni dianugerahi Medali Tertinggi Militer Israel.

Yoni juga sukses membunuh tersangka teroris penyandera atlet Israel di Peristiwa September Hitam.

Tragisnya, Operasi Entebbe sebetulnya sebuah penyerbuan paling matang yang pernah dia pimpin. Yoni bertindak sebagai komandan lapangan, jabatan paling menentukan terkait sukses tidaknya aksi militer Israel itu.

Dalam rencana, 100 tentara Israel yang mendarat di dekat Bandara Entebbe diam-diam pada dini hari, menyusup menggunakan mobil mercy ke area hanggar tempat para sandera disekap. Mereka pun berencana membebaskan para korban, dengan kontak senjata minimal.

Celakanya, saat upaya pembebasan dilakukan, seorang sandera yaitu Jean-Jacques Maimoni malah berdiri dan ditembak mati. Tentara Israel mengira dia salah satu pembajak.

Akibatnya tentara Uganda dan pegiat Palestina mengetahui kedatangan tentara Israel. Adu tembak pun terjadi.

Yoni kena tembak di dada saat situasi kacau balau. Dia tewas dalam pelukan anak buahnya, anggota unit medis Efraim Sneh, pada usia 30. Pria yang digadang-gadang jadi pemimpin militer Zionis ini pun dimakamkan di Yerusalem pada 6 Juli 1976.

Kedua adiknya seakan mengikuti jejaknya. Benjamin dan Iddo Netanyahu semuanya sempat masuk ke satuan khusus Sayeret Matkal. Bedanya, Benjamin akhirnya mendalami karir sebagai pilot dan politikus. Kini Bibi menjadi perdana menteri pertama di negara itu yang terpilih dua kali dengan masa jabatan tidak berurutan.

Sementara si bungsu Iddo tampaknya lebih suka mengikuti ambisi lama Yoni menjadi intelektual. Anak bontot keluarga besar Netanyahu itu sekarang menekuni bidang radiologi dan menulis banyak buku soal fisika dan kimia. (mdk/fas)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP