Penggalian selama enam dasawarsa terakhir di situs di Alken Enge, Denmark, yang digunakan sebagai “padang rumput air” telah mengungkapkan misteri di balik temuan ratusan sisa-sisa jasad misterius.
Jasad-jasad itu pertama kali ditemukan pada 1944 saat sedang melakukan penggalian untuk parit. Penggalian selanjutnya dilakukan 12 tahun setelahnya pada 1956, dan kembali menemukan banyak tulang manusia termasuk puluhan tengkorak serta senjata.
Herannya, jasad-jasad yang ditemukan ini meninggal bukan karena tenggelam. Para ahli meyakini mereka meninggal dengan cara mengerikan, seperti dikutip dari laman Atlas Obscura.
Advertisement
Berdasarkan hasil identifikasi, para ahli mengungkapkan bahwa banyak tulang yang memperlihatkan tanda-tanda kekerasan seperti luka akibat senjata tajam, tengkorak yang hancur karena pukulan kapak, luka akibat tombak dan anak panah.
Para arkeolog menyimpulkan kuburan-kuburan ini adalah hasil pembantaian atau pertempuran yang terjadi selama bertahun-tahun. Hal ini merujuk pada catatan sejarah yang menunjukkan sekitar 2.000 tahun lalu terjadi kekerasan ekstrem dan keresahan sosial di Eropa Utara.
Sebuah studi yang diterbitkan di PNAS menemukan lebih banyak sisa-sisa tulang manusia sebanyak 380 jasad yang dibuang ke danau pada Zaman Besi yang berada di Alken Enge.
Namun, secara misterius mereka tidak meninggal di sana.
Semua korban tewas ini adalah laki-laki yang sebagian besar berusia antara 20 dan 40 tahun, beberapa di antaranya berusia 13 tahun.
Para ahli meyakini, semasa hidup mereka berjuang untuk suku dan kepala suku mereka. Namun setelah meninggal, tubuh mereka mungkin telah menjadi piala dan dikorbankan bagi dewa-dewa musuh mereka.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti