Ahmad Hukam, seorang warga negara Indonesia (WNI) yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sarjana di jurusan Sejarah Peradaban Islam di Universitas Ahlul Bait International University, Teheran, menceritakan pengalaman menegangkan selama tinggal di ibu kota Iran.
Selama serangan yang dilakukan oleh Amerika dan Israel, ia merasakan suasana yang sangat mencekam.
Ahmad mengungkapkan bahwa perkuliahannya terpaksa diliburkan setelah terjadi serangan pada 2 Ramadan, hanya sehari setelah ia mengikuti kuliah terakhirnya.
"Kondisi terakhir itu sudah mulai libur sampai mungkin waktunya tidak bisa ditentukan, karena berita terakhir yang saya ketahui itu, ada serangan lanjutan dan serangannya masih dinamis, masih fleksibel," ujarnya saat ditemui di Terminal 3 Kedatangan Internasional, Bandara Soekarno Hatta pada Selasa, 10 Maret 2026.
Setelah situasi semakin memburuk, tawaran evakuasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) datang, dan Ahmad pun setuju untuk kembali ke Banyumas. Ia bersama puluhan WNI lainnya menjadi bagian dari gelombang pertama repatriasi dari Teheran.
Sebelum proses pemulangan, ia mengaku sempat mendengar beberapa kali suara ledakan akibat serangan roket yang jatuh dekat titik kumpul di KBRI, dengan jarak hanya 1 hingga 2 kilometer.
"Dari sejak awal tuh kami kumpul sudah ada serangan di dekat KBRI itu, mungkin 1 kilo. Hingga akhirnya kami berhasil dievakuasi, dan semua berjalan dengan lancar dan alhamdulillah sampai hari ini kita bertemu kembali," katanya.
Saat ini, proses pembelajaran di kampusnya masih terhenti, baik secara offline maupun online, dan Ahmad memutuskan untuk kembali ke Tanah Air sambil menunggu situasi di Iran membaik.
"Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi kapan pembelajaran akan kembali dilakukan, tapi saya terus berkomunikasi dengan ketua perhimpunan mahasiswa Iran dan update perkembangan," tandasnya.
Advertisement
Hukam menyatakan bahwa setelah serangan yang terjadi di Iran, ia tidak menghadapi kesulitan dalam memperoleh bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa bahan-bahan seperti beras, minyak, dan telur masih tersedia di warung klontong milik warga setempat.
"Tempat tinggal kami dekat dengan klontong, mereka masih buka, welcome juga dengan warga negara asing. Memang ada kenaikan (harga), sekarang sekitar 160-170 riyal harganya, tapi stok masih mudah didapatkan, tidak ada kepanikan," katanya.
Ia menambahkan bahwa tidak ada tindakan panic buying atau penimbunan bahan pokok, dan semua orang saling membantu satu sama lain, termasuk warga negara asing yang masih berada di Teheran.
"Mereka (warga Iran) baik-baik semua ke warga asing, bahkan tidak ada dipersulit atau dibedakan, semua kebutuhan pokok masih bisa dibeli bebas," lanjutnya.
Dari pengamatannya, warga Iran tampak tegar dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari meskipun dalam situasi yang sulit. Lalu lintas di jalan-jalan umum pun masih terlihat normal dengan banyak mobil yang berlalu-lalang.
Hukam juga mencatat bahwa tidak ada kemacetan di perbatasan dan tidak terlihat antrean warga Iran yang ingin mengungsi ke negara lain.
"Mereka malah masih berkumpul untuk mengenang Ali Khamenei, jadi memang seperti untuk menunjukkan kekuatan rakyat Iran," jelasnya.
Namun, ia mengungkapkan bahwa akses komunikasi dari dan ke luar Iran sangat terbatas oleh pemerintah setempat, sehingga ia mengalami kesulitan dalam menghubungi keluarganya di Banyumas.
"Meski pakai VPN, misalnya WhatsApp hari ini bisa besok baru terkirim, karena memang dibatasi," ujarnya.
Walaupun demikian, Hukam tetap memiliki harapan untuk kembali ke Iran dan melanjutkan perkuliahan jika situasi di negara tersebut sudah kembali stabil. Ia merasa optimis bahwa keadaan akan membaik dan ia bisa melanjutkan studinya tanpa hambatan.