Trump: Perang dengan Iran Bisa Berlangsung Sekitar Sebulan, Janji Balas Kematian Tentara AS

Trump dilaporkan telah menunjukkan niat untuk menjalin komunikasi dengan Iran, meskipun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai hal tersebut.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Trump: Perang dengan Iran Bisa Berlangsung Sekitar Sebulan, Janji Balas Kematian Tentara AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert) (© 2026 Liputan6.com)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada hari Minggu (1/3/2026) bahwa konflik dengan Iran mungkin akan berlangsung selama sebulan. Pernyataan ini muncul setelah AS mengumumkan penghancuran markas besar Garda Revolusi Iran, dan Israel mengklaim bahwa operasi gabungan kedua negara telah memberikan "pukulan telak" terhadap sistem komando dan kendali Teheran.

Ketegangan semakin meningkat setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang menyebabkan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah serta dampak pada ekonomi global. AS dan Israel melanjutkan serangan militer yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pelayaran, penerbangan, dan harga minyak. Sebelumnya, pejabat AS menyebutkan bahwa operasi militer ini diperkirakan hanya akan berlangsung beberapa hari.

Dalam wawancara yang terpisah dengan Daily Mail, Trump mengungkapkan bahwa serangan mungkin akan berlanjut hingga empat minggu.

"Ini memang selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Ini selalu tentang proses empat minggu, jadi---sekuat apa pun itu, ini negara besar, akan memakan waktu empat minggu---atau kurang," ungkap Trump dalam kutipannya. Meskipun demikian, Trump menyatakan bahwa ia tetap terbuka untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran, meskipun tidak dapat memastikan kapan hal itu akan terjadi.

"Saya tidak tahu. Mereka ingin berbicara, tetapi saya katakan seharusnya kalian berbicara minggu lalu, bukan minggu ini," tambahnya.

Korban jiwa pertama dari pihak AS

Memasuki hari kedua konflik, Trump mengungkapkan bahwa 48 pemimpin Iran telah tewas, sementara militer AS mulai menghancurkan Angkatan Laut Iran dengan sembilan kapal perang berhasil dimusnahkan dan sisanya masih menjadi target serangan. Militer AS melaporkan bahwa lebih dari 1.000 target di Iran telah diserang sejak perintah operasi tempur besar dikeluarkan oleh Trump pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut termasuk penggunaan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran.

Sementara itu, serangan balasan dari Iran mulai menyebabkan korban di pihak AS. Pada hari Sabtu, militer AS melaporkan tidak ada korban jiwa, tetapi pada hari Minggu diumumkan bahwa tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam operasi melawan Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menginformasikan bahwa beberapa personel lainnya juga mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak, meskipun tidak memberikan rincian atau lokasi insiden tersebut. Dua pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim menyebutkan bahwa para prajurit tersebut tewas di sebuah pangkalan militer di Kuwait.

Trump berupaya mempersiapkan masyarakat AS untuk kemungkinan bertambahnya korban. Dalam sebuah pidato video, ia menyampaikan rasa duka cita, namun mengakui bahwa kemungkinan akan ada lebih banyak korban. "Sayangnya, kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir," ujar Trump.

"Namun AS akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling keras kepada para teroris yang telah berperang melawan, pada dasarnya, peradaban." Utusan AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Michael Waltz, juga menambahkan di platform X, "Kebebasan tidak pernah gratis."

Hanya 25 Persen

Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, serta serangan terhadap kota-kota di Teluk seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, menunjukkan betapa besar risiko yang diambil oleh Trump dengan menyerang Iran menjelang pemilihan sela di AS yang akan menentukan kendali Kongres.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan pada hari Minggu, hanya sekitar 25 persen warga AS yang mendukung tindakan militer tersebut. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih dari beberapa hari, konsumen di AS diperkirakan akan merasakan dampaknya dalam bentuk kenaikan harga bahan bakar.

Tantangan Eksistensial bagi Iran

Angkatan bersenjata Israel mengumumkan pada Minggu malam bahwa mereka telah menguasai wilayah udara Teheran dan melancarkan serangkaian serangan yang menargetkan pusat intelijen, keamanan, dan komando militer di ibu kota Iran. Seorang pejabat Israel yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah melemahkan pemerintah Iran hingga mengalami keruntuhan. Ia juga menambahkan bahwa Israel "bertindak dengan caranya sendiri" untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan dan melakukan protes.

Garda Revolusi Iran pada hari yang sama mengungkapkan bahwa mereka telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris di Teluk serta Selat Hormuz, dan juga menyerang pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain menggunakan drone dan rudal. Serangan udara yang terus menerus ini telah mengakibatkan gangguan parah pada perjalanan udara global, dengan banyak bandara utama di Timur Tengah, termasuk Dubai yang merupakan pusat penerbangan internasional tersibuk, terpaksa ditutup. Situasi ini menjadi salah satu gangguan penerbangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Di Iran, yang kini menghadapi tantangan terberat sejak perang dengan Irak pada tahun 1980 hingga 1988, Presiden Masoud Pezeshkian menginformasikan bahwa sebuah dewan kepemimpinan yang terdiri dari dirinya, kepala lembaga peradilan, dan seorang anggota Dewan Garda, sementara waktu mengambil alih tugas pemimpin tertinggi. Kementerian Luar Negeri Oman menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menunjukkan bahwa Teheran terbuka untuk de-eskalasi. Namun, dalam unggahan di X, Araghchi menegaskan bahwa Iran siap untuk terus bertempur. "Selama dua dekade terakhir, kami mengamati dan mempelajari berbagai kegagalan militer AS di negara-negara yang berada di sebelah timur dan barat kami," tulisnya.

"Karena itu, pemboman terhadap ibu kota kami tidak akan melemahkan atau menghentikan kemampuan kami untuk terus berperang."

Belum Pasti

Sejumlah anggota parlemen di Amerika Serikat meragukan kemungkinan terjadinya perubahan rezim di Iran hanya melalui operasi militer yang sedang berlangsung. Senator Demokrat Chris Coons menyatakan bahwa ia tidak melihat bagaimana perubahan pemerintahan di Iran dapat dicapai hanya dengan serangan udara.

"Saya tidak mengetahui satu pun contoh dalam sejarah modern di mana perubahan rezim terjadi hanya melalui serangan udara," ujarnya dalam program CNN 'State of the Union'.

Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen nasional AS untuk kawasan Timur Tengah. Ia menilai bahwa Washington dan Israel tampaknya tidak hanya berusaha untuk melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga mengguncang stabilitas rezim dengan menyingkirkan para pemimpin senior serta menguji loyalitas jajaran aparat di bawahnya. Menurut Panikoff, keberhasilan dari strategi ini akan sangat bergantung pada sikap aparat keamanan Iran—apakah mereka akan tetap setia kepada kepemimpinan yang ada atau justru membelot jika gelombang protes publik kembali muncul.

Di sisi lain, Senator Republik Tom Cotton, yang menjabat sebagai ketua Komite Intelijen Senat, menyatakan bahwa situasi ke depan masih dipenuhi dengan ketidakpastian. "Tidak ada jawaban sederhana mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya," ujarnya dalam program CBS News 'Face the Nation'.

Senator Republik Lindsey Graham, yang merupakan sekutu dekat Trump dan dikenal konsisten mendukung penggunaan kekuatan militer serta kebijakan keamanan nasional yang tegas, menolak anggapan bahwa AS akan sepenuhnya menanggung konsekuensi dari konflik ini.

"Anda tahu, gagasan 'Anda merusaknya, Anda memilikinya', saya sama sekali tidak setuju," kata Graham dalam program NBC 'Meet the Press'.

"Ini bukan Irak. Ini bukan Jerman. Ini bukan Jepang. Kami akan membebaskan rakyat dari rezim teroris."

Rekomendasi