Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik Roma saat ini, menghadapi tekanan publik yang makin besar untuk mengunjungi langsung ke Gaza. Seruan ini muncul di tengah kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut. Publik berharap kehadirannya dapat membantu menembus blokade Israel dan membawa masuk bantuan kemanusiaan.
Desakan ini semakin menguat pasca-serangan tragis terhadap Gereja Katolik Keluarga Kudus di Kota Gaza pada 17 Juli 2025. Insiden tersebut menewaskan tiga orang dan melukai sepuluh lainnya, termasuk pastor paroki. Peristiwa ini memicu gelombang dukungan dan desakan agar Paus bertindak lebih konkret.
Desakan ini juga muncul sebagai tanggapan atas pernyataan yang diunggah Paus di platform X pada hari Minggu, di mana ia mengungkapkan kesedihan atas serangan Israel yang menewaskan tiga umat Kristiani di Gereja Katolik Keluarga Kudus (Holy Family Catholic Church) di Kota Gaza pekan lalu.
“Berita tragis terus berdatangan dari Timur Tengah, terutama dari Gaza,” tulis Paus, seperti dilansir Middle East Eye, Senin (21/7).
“Saya mengungkapkan kesedihan mendalam atas serangan pada hari Kamis lalu oleh tentara Israel terhadap Paroki Katolik Keluarga Kudus di Kota Gaza, yang seperti Anda ketahui menewaskan tiga umat Kristiani dan melukai lainnya secara serius. Saya berdoa untuk para korban… dan saya secara khusus merasa dekat dengan keluarga mereka dan semua jemaat.”
Advertisement
Tidak menyebut Israel
Paus menyebut nama para korban — Saad Issa Kostandi Salameh, Foumia Issa Latif Ayyad, dan Najwa Ibrahim Latif Abu Daoud — serta menyampaikan dukungan spiritual kepada keluarga dan komunitas mereka.
Melalui berbagai platform media sosial, masyarakat global mendesak Paus Leo XIV untuk memimpin upaya penyaluran bantuan makanan dan medis. Mereka menyarankan Paus untuk secara pribadi pergi ke Gaza. Langkah ini diharapkan dapat menantang blokade dan menyelamatkan jutaan jiwa yang terancam kelaparan.
Walaupun banyak yang menyambut baik pernyataan tersebut, sejumlah pihak mengkritik Paus karena tidak mengambil langkah lebih lanjut.Pernyataan terbaru ini muncul setelah respons awal Paus Leo yang disampaikan pada hari Jumat sebelumnya, yang mengakui adanya korban jiwa namun tidak menyebut Israel sebagai pelaku serangan.
Kelalaian ini memicu reaksi keras dan perbandingan dengan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang dikenal vokal dalam mengkritik perang Israel di Gaza dan sering menjalin kontak langsung dengan komunitas Kristen di sana.Kini, tekanan terhadap Paus Leo semakin meningkat, tidak hanya untuk berbicara lebih tegas, tetapi juga untuk bertindak nyata.
“Paus seharusnya pergi ke Gaza dan membawa bantuan,” tulis seorang pengguna media sosial. “Ia harus menantang Israel untuk menghentikannya. Kata-kata, betapapun tulusnya, tidak akan menyelamatkan satu anak yang kelaparan.”
Pengguna lain menyarankan agar Paus menaiki kapal yang membawa makanan dan pasokan medis.
“Dengan PBB menyatakan bahwa tahap akhir kelaparan yang mungkin tak dapat dipulihkan sedang terjadi bagi jutaan orang, tindakan berani adalah satu-satunya harapan.”
Beberapa orang menunjukkan status unik Paus di panggung dunia, dengan satu komentar berbunyi:
“Ada mungkin enam atau tujuh orang di dunia ini yang Israel tidak akan berani, atau tidak diberi izin oleh AS, untuk ditembak jatuh jika sedang mengirimkan bantuan – dan Paus adalah salah satunya.”
“Naiklah ke pesawat dengan bantuan kemanusiaan, langgar blokade udara,” tulis pengguna lain. “Akankah mereka menembak jatuh pesawat Paus?”
Kantor urusan kemanusiaan PBB memperingatkan pada hari Minggu bahwa keluarga-keluarga di Gaza mengalami “kelaparan yang sangat parah”, dengan anak-anak “menjadi kurus kering” dan sebagian meninggal sebelum bantuan sempat tiba.
Badan pertahanan sipil Gaza menyatakan pada hari Minggu bahwa jumlah kematian bayi akibat kelaparan terus meningkat.“Kasus-kasus memilukan ini bukan disebabkan oleh pemboman langsung, tetapi oleh kelaparan, tidak adanya susu formula bayi, dan tidak tersedianya layanan kesehatan dasar,” kata juru bicara pertahanan sipil, Mahmud Bassal, yang mencatat setidaknya tiga kematian bayi akibat kelaparan dalam sepekan terakhir.
Advertisement