Serangan udara Amerika Serikat (AS) di Yaman telah menelan biaya yang sangat besar, mencapai USD1 miliar atau sekitar Rp16,5 triliun dalam satu bulan, namun gagal mencapai superioritas udara dan mencapai kemenangan, menurut laporan New York Times.
Operasi militer ini tidak hanya menghabiskan dana yang signifikan, tetapi juga mengakibatkan kerugian peralatan militer yang cukup besar, termasuk setidaknya tujuh drone MQ-9 Reaper yang masing-masing bernilai sekitar USD30 juta atau sekitar Rp496 miliar dan dua pesawat tempur F/A-18 Super Hornet dengan nilai masing-masing sekitar USD67 juta atau sekitar Rp1,1 triliun. Kegagalan ini terjadi di tengah kemampuan pertahanan udara kelompok Houthi yang terbukti efektif, bahkan hampir mengenai pesawat tempur F-16 dan F-35.
Pada pertengahan Maret, Presiden AS Donald Trump meluncurkan Operasi Rough Rider, mengebom Yaman yang diharapkannya akan memaksa Houthi untuk menyerah, seperti dikutip dari Middle East Eye, Kamis (15/5).
“Ketika Trump memulai operasi udara, dia mengatakan akan memusnahkan kami,” kata Komandan lapangan Houthi di garis depan al-Jawf di Yaman utara, yang hanya menyebut dirinya sebagai Ali, mengatakan.
Namun setelah lebih dari sebulan, lanjutnya, Trump telah “belajar dari kesalahannya," lanjutnya.
“Berperang melawan Yaman bukanlah petualangan yang mudah,” ujarnya.
“Kekalahan seperti itu tidak pernah dibayangkan di Washington.”
Trump sendiri tampaknya mengakui dan memuji perlawanan yang dilakukan oleh Houthi.
"Kami menyerang mereka dengan sangat keras dan mereka memiliki kemampuan hebat untuk menahan hukuman," ujar Trump kepada wartawan pekan lalu.
"Bisa dikatakan ada banyak keberanian di sana."
Kegagalan AS dalam mencapai superioritas udara di Yaman merupakan pukulan telak bagi strategi militer mereka. Meskipun memiliki teknologi dan persenjataan yang jauh lebih unggul, AS menghadapi tantangan besar dalam menghadapi taktik perang asimetris yang diterapkan oleh kelompok Houthi. Kemampuan Houthi dalam menembak jatuh sejumlah besar drone dan pesawat tempur AS menunjukkan adanya kemungkinan dukungan sistem senjata canggih dari negara lain. Hal ini semakin mempersulit upaya AS untuk mengamankan wilayah udara Yaman.
Selain kerugian material, operasi militer ini juga menimbulkan risiko bagi personel AS. Laporan menyebutkan tiga personel AS terluka dalam insiden terpisah akibat serangan Houthi. Situasi ini memaksa Presiden Trump untuk mengumumkan gencatan senjata pada 6 Mei 2025, yang dimediasi Oman. Gencatan senjata ini, meskipun berhasil menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal AS di Laut Merah, tetap tidak berlaku untuk Israel.
Advertisement
Rencana 10 Bulan Serangan
Seorang komandan lapangan Houthi mengatakan kepada Middle East Eye pekan lalu, mereka menembak jatuh tujuh pesawat nirawak MQ Reaper dalam beberapa pekan terakhir. Selain itu, mereka juga menembak jatuh dua jet tempur AS.
Menurut New York Times, dua jet F/A-18 Super Hornet senilai USD67 juta itu sebenarnya secara tidak sengaja jatuh dari kapal induk utama AS ke laut. Dua pilot dan seorang awak dek penerbangan terluka dalam insiden tersebut. Laporan itu menyatakan pertahanan udara Houthi hampir mengenai jet tempur F16 dan F-35 Amerika, yang dapat mengakibatkan jatuhnya korban di pihak AS.
Serangan AS ke Yaman awalnya direncanakan berlangsung hingga 10 bulan, dan juga ditujukan untuk menargetkan para pemimpin Houthi, dalam strategi yang mirip dengan perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon, menurut laporan New York Times.
Militer AS melakukan lebih dari 1.100 serangan, yang diklaim menewaskan ratusan pejuang Houthi. Namun, warga Yaman mengatakan kepada MEE awal bulan ini bahwa banyak serangan menargetkan wilayah di mana tak ada pejuang Houthi, dan menewaskan sejumlah besar warga sipil.
Satu serangan terhadap pusat penahanan migran di Saada, barat laut negara itu, menewaskan 68 migran Afrika dan melukai puluhan lainnya.