Bukan di Mesir, Arkeolog Temukan Piramida Berusia 3.800 Tahun Berbentuk Segi Enam, Ada Sisa Tulang Kuda dan Anting Emas

Para ahli memperkirakan bangunan setinggi 3 meter ini memiliki tujuan khusus.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Bukan di Mesir, Arkeolog Temukan Piramida Berusia 3.800 Tahun Berbentuk Segi Enam, Ada Sisa Tulang Kuda dan Anting Emas
Bukan di Mesir, Arkeolog Temukan Piramida Berusia 3.800 Tahun Berbentuk Segi Enam, Ada Sisa Tulang Kuda dan Anting Emas (Merdeka.com)

Para arkeolog di Kazakhstan timur menemukan struktur aneh berusia 3.800 tahun yang kemudian disebut piramida. Uniknya, piramida ini berbentuk heksagonal atau segi enam, berbeda dengan piramida di Mesir.

Para ahli memperkirakan bangunan setinggi 3 meter ini memiliki tujuan khusus yaitu tempat pemakaman. Desain geometrisnya juga belum pernah ditemukan sebelumnya di wilayah tersebut.

“Piramida stepa dibangun dengan sangat presisi; heksagonal. Ada 13 meter dan delapan baris batu di antara setiap sisinya,” jelas arkeolog dan pemimpin penggalian dari L. N. Gumilyov Eurasian National University, Ulan Umitkaliyev, dalam pernyataan resmi yang dibagikan ke seluruh media akademis, dikutip dari laman Earth, Kamis (13/2).

Geometri mempunyai makna mendalam bagi banyak masyarakat Zaman Perunggu di Asia. Orang yang membangun struktur seperti ini sering kali menggabungkan seni dan astronomi saat merencanakan bangunan komunal yang besar.

Salah satu dinding luar struktur ini dibuat dengan batu megalitik, sedangkan bagian dalamnya memiliki banyak lingkaran. Para peneliti tidak mengetahui apakah seluruh ruangan pernah memiliki atap atau dibiarkan terbuka terhadap berbagai elemen.

Dilaporkan bahwa masing-masing dari enam sisinya berukuran panjang sekitar 42 kaki (13 meter). Strukturnya pernah ditutupi oleh tanah, meskipun kondisinya saat ini menunjukkan banyak paparan.

Kerangka Kuda

Kelompok-kelompok tertentu di daerah ini membangun monumen pemakaman dengan gundukan tanah untuk menunjukkan rasa hormat terhadap anggota yang berpengaruh. Menurut sejumlah ahli, lapisan tanah ini mungkin juga membantu mengawetkan benda-benda halus yang terkubur di bawahnya.

Para arkeolog juga menemukan kerangka kuda dan keramik, menunjukkan penduduk setempat menghormati hewan dalam adat istiadat mereka. Analisis arkeologi menunjukkan hewan merupakan simbol utama kekayaan masyarakat di wilayah ini. Tulang kuda di dekat kompleks batu mengungkapkan bagaimana makhluk ini digunakan untuk transportasi dan upacara seremonial.

Satu set anting-anting emas juga ditemukan dari situs tersebut, menunjukkan karya logam telah mencapai tingkat seni yang tinggi di wilayah tersebut.

Para ahli menghubungkan situs tersebut dengan komunitas Andronovo, yang berkembang di beberapa bagian Asia Tengah dari sekitar tahun 2000 hingga 900 SM. Mereka dikenal karena memelihara kuda dan membangun struktur batu yang menunjukkan keterampilan tingkat lanjut.

Rekomendasi