Kantor berita Iran Mehr kemarin melaporkan, senjata mesin yang dikendalikan dari satelit digunakan untuk membunuh ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pekan lalu.
Fakhrizadeh yang dibunuh dengan senjata api dan bom mobil di pinggiran Teheran pada 27 November lalu sedang mengendarai mobilnya ketika senjata itu membidiknya dengan teknologi kecerdasan buatan, kata lapoiran Mehr mengutip wakil panglima Garda Revolusi Ali Fadavi.
Sejumlah teori penyebab kematiannya beredar sejak dia dibunuh pekan lalu, seperti dilansir laman South China Morning Post, Senin (7/12).
Laporan awal menyebut dia terjebak di tengah baku tembak antara pengawalnya dengan sejumlah pelaku bersenjata. Laporan lain mengatakan dia ditembak dengan senjata mesin yang dikendalikan lewat remote di atas sebuah truk oleh seseorang yang kemudian melarikan diri keluar negeri.
Fadavi kemarin menuturkan, senjata mesin itu melepaskan 13 tembakan ke arah Fakhrizadeh dan saking akuratnya, istri Fakhrizadeh yang duduk di sampingnya di dalam mobil itu tidak terluka.
Dia juga mengatakan 11 pengawal di mobil terpisah menemani Fakhrizadeh dan istrinya selama perjalanan.
Advertisement
Insiden ini adalah yang kedua menyasar pejabat tinggi Iran sejak Januari lalu ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan serangan pesawat nirawak (drone) untuk membunuh Jenderal Qassim Sulaimani.
Teheran menuding Israel di balik pembunuhan Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir kelima yang dibunuh di Iran sejak 2010.
Israel tidak berkomentar atas tuduhan ini, namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pernah menyebut nama Fakhrizadeh dalam presentasinya soal program nuklir Iran pada April 2018.