Konflik kembali pecah antara Azerbaijan dan Armenia, yang keduanya merupakan musuh bebuyutan dan telah terlibat konflik panjang. Para pemimpin dunia dan organisasi internasional seperti PBB mendesak kedua negara menghentikan permusuhan dan mengedepankan perundingan. Dalam pertempuran terbaru akhir pekan kemarin, sedikitnya 24 orang dilaporkan tewas.
Kedua negara memiliki perbedaan sejarah serius yang mencakup persoalan agama, etnis, dan tentunya politik. Azerbaijan memiliki populasi mayoritas Muslim yang juga menampung keberadaan warga Turki, sementara Armenia adalah negara mayoritas Kristen sebagian besar dihuni oleh etnis Armenia.
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaan kekaisaran Utsmaniyah, konflik etnis pecah antara dua negara, khususnya di Kaukasia dan sebagian wilayah Anatolia timur.
Dikutip dari TRT World, Senin (28/9), selama Perang Dunia I, penduduk Armenia yang didukung Rusia dam beberapa negara Barat, mencoba memusnahkan populasi Muslim dari Kaukasia dan Anatolia Timur untuk membentuk negara merdeka. Hal ini memicu konfrontasi bersenjata antara Ustmaniyah dan Armenia.
Di bawah Uni Soviet, konflik antara kedua negara sempat jeda ketika republik Armenia dan Azerbaijan terbentuk dan bertetangga.
Tapi pembentukan wilayah oleh Soviet antara Azerbaijan dan Armenia menciptakan masalah lain, dan menabur benih konflik masa depan.
Konflik Nagorno-Karabakh adalah perselisihan internasional besar - seperti perselisihan Palestina-Israel, yang menyangkut bekas Yugoslavia, dan Siprus, tetapi belum mendapat perhatian internasional yang sama.
Advertisement
Asal Usul Konflik
Setelah Azerbaijan dan Armenia masuk ke Uni Soviet, Wilayah Otonomi Nagorno-Karabakh dibentuk di dalam Azerbaijan oleh Uni Soviet pada 1924.
Selama pembubaran Uni Soviet pada akhir 1980-an, pertanyaan tentang masa depan wilayah tersebut menjadi sumber permusuhan dan bentrokan mulai pecah antara etnis Azerbaijan dan Armenia pada November 1988. Bentrokan berlanjut dan kemudian berhenti sampai kedua negara mendapatkan kemerdekaannya pada 1991.
Karabakh melangsungkan referendum pada Desember 1991 terkait pembentukan negara merdeka, yang berarti secara sepihak menyatakan diri terpisah dari Republik Azerbaijan. Mayoritas dari mereka yang pergi ke tempat pemungutan suara referendum memilih merdeka, namun sebagian besar orang Azerbaijan yang tinggal di Karabakh memboikotnya dengan mengatakan referendum itu tidak sah.
Advertisement
Banyak negara tak mengakui legitimasi deklarasi kemerdekaan Karabakh. Ini sebagian karena hanya 15 republik dari bekas Uni Soviet bisa mendeklarasikan kedaulatan dari Uni Soviet berdasarkan konstitusi, dan Karabakh bukan salah satunya karena statusnya sebagai wilayah otonomi. Lebih jauh dari ini, deklarasi unilateral kemerdekaan kerap ditolak karena mereka melanggar hukum internasional.
Menyusul referendum, konflik meningkat menjadi perang antara Azerbaijan dan Armenia. Sedikitnya 30.000 orang tewas dan diperkirakan 1 juta orang telantar dari kedua belah pihak sampai akhir perang pada 1993.
Azerbaijan dan Armenia mencapai kesepakatan gencatan senjata tak resmi pada Mei 1994 melalui mediasi Rusia, sementara Moskow dilaporkan mendukung pasukan Armenia secara militer dan politik selama konflik. Sejak saat itu, bentrokan kerap pecah sampai saat ini.