Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain resmi mengakui Israel setelah penandatanganan kesepakatan normalisasi hubungan antar negara yang difasilitasi Amerika Serikat (AS). Penandatangan perjanjian yang dinamai Kesepakatan Abraham berlangsung pada Selasa (15/9) di Gedung Putih. Para pemimpin keempat negara memuji perjanjian tersebut sebagai "fajar baru" perdamaian di Timur Tengah.
Ratusan orang berkumpul di Halaman Selatan Gedung Putih untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian antara Israel dan UEA dan Bahrain.
"Kita berada di sini sore ini untuk mengubah perjalanan sejarah," ujar Presiden AS, Donald Trump dari balkon menghadap ke Halaman Selatan, dikutip dari Times of Israel, Rabu (16/9).
"Setelah beberapa dekade perpecahan dan konflik, kita menandai fajar Timur Tengah baru."
Perjanjian itu tak menyinggung konflik panjang Israel-Palestina. Sementara UEA, Bahrain, dan negara Arab lainnya mendukung Palestina, pemerintah Trump membujuk dua negara tersebut untuk tak membiarkan konflik menjadi penghalang mereka menjalin hubungan normal dengan Israel.
Dalam pidatonya sebelum penandatanganan perjanjian, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyanjung capaian tersebut sebagai "sejarah penting". Dia mengatakan, momentum perdamaian baru bisa mengakhiri konflik Arab-Israel "sekali dan untuk semua".
Menteri Luar Negeri UEA, Abdullah bin Zayed bin Sultan Al Nahyan berterima kasih kepada Netanyahu karena "menghentikan aneksasi wilayah Palestina yang memperkuat keinginan bersama untuk mencapai masa depan yang lebih baik untuk generasi yang akan datang."
Ketiga pemimpin tak melakukan jabat tangan setelah penandatanganan perjanjian, tapi mereka meletakkan tangan di dada dan menunduk, sesuai protokol pencegahan Covid-19.
Advertisement
Tiga dokumen ditandatangani pada upacara tersebut: Selain perjanjian bilateral individu yang ditandatangani oleh Israel dengan UEA dan Bahrain, ketiganya menandatangani dokumen trilateral, kata para pejabat. Perjanjian tersebut dijuluki "Perjaniian Abraham" yang diambil dari nama Ibrahim, bapak agama monoteistik utama dunia. Trump berstatus sebagai saksi dalam upacara tersebut.
Perjanjian UEA masih perlu disetujui pemerintah Israel, dan akan diajukan ke parlemen Israel, Knesset untuk ratifikasi.
Dalam pidatonya, PM Netanyahu menyampaikan, Israel "dipenuhi rasa syukur mendalam" atas kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Trump, sebagaimana Abu Dhabi dan Manama, dalam "membawa harapan kepada semua anak-anak Ibrahim."
Dia mengatakan, Trump berhasil memfasilitasi perdamaian bersejarah yang ditandatangani hari itu.
"Sebuah perdamaian yang memiliki dukungan luas di Israel, di Timur Tengah, di Amerika - tentu, di seluruh dunia. Hari ini, kabar sebuah fajar baru perdamaian," kata Netanyahu.
"Kepada semua kawan-kawan kami di Timur Tengah, mereka yang bersama kami hari ini dan mereka yang akan bergabung bersama kami besok, saya sampaikan: Assalamu'alaikum. Kedamaian atas Anda sekalian. Shalom."
"Perdamaian yang kita buat hari ini akan abadi," lanjutnya.
"Kita telah menyaksikan sebuah perubahan di jantung Timur Tengah, sebuah perubahan yang mengirim harapan di seluruh dunia," kata Menlu UEA.
Menlu Bahrain, Abdullatif al-Zayani, menyampaikan perjanjian itu sebagai sebuah momentum harapan dan kesempatan bagi semua rakyat Timur Tengah dan sebuah langkah bersejarah menuju perdamaian abadi.
"Sudah terlalu lama, Timur Tengah telah dipukul mundur oleh konflik dan ketidakpercayaan, menyebabkan kehancuran yang tak terhitung," jelasnya.
“Sekarang saya yakin kami bisa mengubahnya,” lanjutnya.
Al-Zayani juga mencatat perjuangan Palestina, mengatakan “Kesepakatan hari ini adalah langkah pertama yang penting dan sekarang kewajiban kita untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan abadi di kawasan itu: Solusi dua negara yang adil, komprehensif dan abadi untuk Israel- Konflik Palestina akan menjadi fondasi, fondasi bagi perdamaian semacam itu. "