Presiden Tanzania Minta Perempuan Lahirkan Banyak Anak

Menurutnya, memiliki banyak anak akan mendorong perbaikan ekonomi menjadi pusat kekuatan regional. Namun para kritikus menilai langkah tersebut malah akan memperburuk kesenjangan dan kemiskinan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Presiden Tanzania Minta Perempuan Lahirkan Banyak Anak
john magufuli. ©Sadi Said/Reuters

Presiden Tanzania, John Magufuli meminta para perempuan di negaranya melahirkan banyak anak. Menurutnya, memiliki banyak anak akan mendorong perbaikan ekonomi menjadi pusat kekuatan regional. Namun para kritikus menilai langkah tersebut malah akan memperburuk kesenjangan dan kemiskinan.

"Ketika Anda memiliki populasi yang besar Anda akan membangun perekonomian. Itulah kenapa ekonomi China begitu maju," kata Magufuli pada Selasa (9/7), dilansir dari Aljazeera, Kamis (11/7). Selain China, Magufuli juga mencontohkan India dan Nigeria dengan jumlah demografi yang besar.

"Saya tahu mereka yang suka menggunakan KB akan mengeluhkan ucapan saya ini. Bebaskan rahim Anda, biarkan mereka menggunakan KB," ujarnya dalam sebuah pertemuan di kota kelahirannya, Chato.

Sejak menjabat pada 2017, Magufulu meluncurkan program industrialisasi yang membantu mendorong pertumbuhan ekonomi, yang rata-rata 6-7 persen setiap tahun dalam beberapa tahun terakhir. Dia mengatakan, dengan tingkat kelahiran yang lebih tinggi, kemajuan semakin cepat dicapai.

Tanzania telah mempertahankan pertumbuhan yang relatif tinggi, rata-rata 6-7 persen per tahun, selama dekade terakhir. Pada saat yang sama, negara Afrika Timur yang berpenduduk 55 juta orang ini memiliki angka kelahiran tertinggi di dunia - sekitar lima anak setiap perempuan.

Data dari dana populasi PBB UNFPA menunjukkan, populasi Tanzania tumbuh sekitar 2,7 persen setiap tahun sementara sebagian besar rumah sakit umum dan sekolah-sekolah penuh sesak dan banyak anak muda tidak memiliki pekerjaan.

UNFPA mengatakan, sekitar sepertiga perempuan menikah di Tanzania menggunakan kontrasepsi, tetapi Magufuli telah mengkritik program keluarga berencana Kementerian Kesehatan yang didukung Barat.

Tahun lalu, Magufuli mengatakan mereka yang membatasi angka kelahiran karena mereka malas merawat anak-anak mereka", dan Kementerian Kesehatan dilarang menyiarkan iklan keluarga berencana yang didanai AS.

Menurut Bank Dunia, tingkat kemiskinan Tanzania - warga yang berpenghasilan kurang dari USD 1 per hari - turun hingga sekitar 26 persen pada 2016, jumlah absolut warga miskin belum turun karena tingkat pertumbuhan populasi yang tinggi.

Para pemimpin oposisi di Tanzania mengkritik sikap Magufuli, mengatakan pertumbuhan populasi yang cepat di negara itu dapat menjadi bom waktu, dan pernyataan tidak setuju muncul di media sosial.

"Sebagai perempuan modern, saya tidak percaya ini, apalagi datang dari dirinya (presiden)," kata seorang pengguna Twitter.

Aktivis HAM berbasis di Dar es Salaam, yang menolak disebutkan namanya mengkritik pernyataan Magufuli. Menurutnya populasi yang tinggi dapat meningkatkan jumlah warga miskin.

"Pertumbuhan penduduk yang tinggi di Tanzania berarti peningkatan tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan," ujarnya.

Aktivis ini menolak disebutkan namanya untuk menghindari kemungkinan akibat dari tinjauan pemerintah yang sedang berlangsung atas pendaftaran organisasi non-pemerintah.

"Rahim perempuan tidak boleh dimanfaatkan sebagai alat demi kemakmuran ekonomi," pungkasnya.

Rekomendasi