Pemimpin oposisi sebut bisa kalahkan Putin dalam pemilu Rusia tahun depan

Pemimpin oposisi sebut bisa kalahkan Putin dalam pemilu Rusia tahun depan. Nama Navalny tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Rusia khususnya di dunia perpolitikan. Navalny dikenal tidak hanya di Rusia tetapi juga internasional sebagai kritikus korupsi dan pemerintahan Putin.

Ira Astiana
Oleh Ira Astiana - Reporter
Pemimpin oposisi sebut bisa kalahkan Putin dalam pemilu Rusia tahun depan
Alexei Navalny. ©AP

Pesta demokrasi digelar di Rusia pada 2018 mendatang tidak hanya akan menyumbang nama Presiden Vladimir sebagai kandidat tunggal, tetapi juga nama lain yang menyatakan niat untuk menjadi kandidat. Salah satu nama pemimpin oposisi yang menjadi sorotan adalah Alexei Navalny, 41 tahun. Dia merupakan anggota Koordinasi Dewan Oposisi Rusia dan pemimpin partai Kemajuan yang sebelumnya disebut Aliansi Rakyat.Nama Navalny tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Rusia khususnya di dunia perpolitikan. Navalny dikenal tidak hanya di Rusia tetapi juga internasional sebagai kritikus korupsi dan pemerintahan Putin. Dia pernah menggalang demonstrasi besar untuk mendukung demokrasi dan menyerang sekutu politik Putin.Perjuangan Navalny untuk menjadi penantang Putin tidaklah mudah. Dia sudah melewatkan serangkaian peristiwa seperti penangkapan, pemeriksaan pengadilan, hingga kekerasan fisik yang merusak penglihatannya. Meski demikian, dia tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berhenti mencalonkan diri sebagai presiden."Saya akan memenangkan pemilu, jika saya diizinkan untuk berusaha dan memanfaatkan media. Hal itulah alasan utama mereka tidak menginginkan saya untuk maju pemilu. Mereka sadar betul betapa sedikitnya dukungan yang bisa diperoleh oleh mereka," ujarnya dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari laman AP, Selasa (19/12).Dengan catatan kriminal dimilikinya, Navalny kemungkinan akan kehilangan banyak surat suara. Sementara itu dukungan terhadap Putin terus menggema jelang pemilu. Namun, kegigihannya membawa Rusia ke pemerintahan yang baru membuatnya mendapat dukungan tak kalah banyak.Beberapa jajak pendapat juga menunjukkan hasil yang kompleks. Dalam survei independen terbaru dilakukan oleh lembaga Levada Centre, sebanyak 75 persen rakyat Rusia memilih Putin sebagai presiden. Namun, dalam survei sama, tanda-tanda bahwa antusiasme rakyat terhadap Putin yang berkurang pun sudah mulai terlihat.Jajak pendapat itu menunjukkan bahwa 51 persen rakyat bosan dengan Putin dan ragu pria tersebut bisa membawa perubahan positif di Rusia. Jumlah itu 10 persen lebih banyak dari survei digelar tahun lalu. Survei yang melibatkan 1.600 responden itu memiliki simpang kesalahan 2,5 persen.Survei tersebutlah yang dijadikan Navalny sebagai alat untuk memperoleh dukungan. Navalny berharap bisa memanfaatkan ketidakpuasan itu untuk mengamankan posisinya."Putin tidak pernah mengatakan apapun. Yang bisa dia janjikan adalah janji-janji yang sudah diucapkan sebelumnya. Kalian bisa lihat sendiri tidak ada satupun janji-janji ini yang menjadi kenyataan," tegasnya.Navalny sendiri memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kampanyenya, mulai dari Twitter, Telegram, dan program mingguan di YouTube. Namun Navalny tidak bisa menggunakan televisi, sumber informasi utama rakyat Rusia, sebagai alat kampanye karena sarana itu dikendalikan oleh pemerintah.Navalny menjadi sorotan ketika pada 2009 dia mempublikasikan penyelidikan korupsi di perusahaan terbesar negara. Sejak peristiwa itu dia mulai mendapat dukungan dari para simpatisannya.Sejak setahun lalu dia mulai membangun jaringan pendukung untuk usahanya maju sebagai calon presiden. Navalny mengatakan saat ini dia punya sekitar 190 ribu sukarelawan, kebanyakan kaum muda, yang berasa dari Kaliningrad hingga Vladivostok. Para pendukungnya sudah membuka kantor kampanye di 83 kota, termasuk di daerah yang menjadi kemenangan telak bagi Putin.

Rekomendasi