Borong obligasi Venezuela, Goldman-Sachs dianggap ikut langgar HAM

Goldman-Sachs dianggap ikut membantu Maduro yang menjalankan pemerintahan otoriter dan menindas rakyat.

Aryo Putranto Saptohutomo
Borong obligasi Venezuela, Goldman-Sachs dianggap ikut langgar HAM
Demo anti-Maduro di New York. ©Reuters/Lucas Jackson

Lembaga keuangan swasta multinasional, Goldman-Sachs Group Inc., malah membeli obligasi pemerintah Venezuela senilai USD 5,8 miliar, atau setara lebih dari Rp 37.2 triliun. Sontak hal itu membikin mereka dicemooh habis-habisan lantaran dianggap mendukung Presiden Nicolas Maduro dianggap otoriter dan menindas.Venezuela mengalami krisis ekonomi dengan tingkat inflasi tak terkendali, dan menjurus pada kerusuhan sosial dan konflik politik. Hal itu dikarenakan sistem ekonomi mereka tidak berjalan baik dan tetap mengambil kebijakan subsidi supaya harga minyaknya tetap murah. Namun lambat laun pemerintahan Maduro juga tersudut lantaran nilai utang semakin melonjak. Maka dari itu mereka semakin tergantung dengan kesepakatan utang atau melego aset. Kabarnya, pada Kamis pekan lalu nilai aset mereka jika dijual di pasar dunia sebesar USD 749 juta. Sehari kemudian melonjak menjadi USD 10,86 miliar, seperti dilansir dari laman Reuters, Rabu (31/5).Dengan kesepakatan itu, Venezuela berhasil mendapat pemasukan jutaan dolar, di tengah situasi negara itu yang tidak menentu. Namun, Goldman-Sachs juga dianggap masuk ke dalam pusaran konflik dan bisa-bisa menjadi salah satu penyokong kekerasan bahkan pelanggar hak asasi karena turut membiayai penindasan dilakukan Maduro terhadap rakyatnya.Goldman dalam pernyataannya menyangkal bertransaksi langsung dengan pemerintahan Maduro terkait pembelian obligasi itu. Mereka berkilah pembelian dilakukan melalui perusahaan perantara."Kami memahami situasi ini pelik serta terus berkembang dan Venezuela dalam krisis. Kami sepakat kehidupan di sana harus lebih baik, dan kami memilih berinvestasi karena yakin hal itu akan terjadi," tulis Goldman dalam pernyataannya.Kabarnya, perusahaan perantara itu bernama Dinosaur Financial Group. Namun, mereka tidak mau memberikan pernyataan apapun soal itu. Konon, Goldman memborong obligasi itu dengan harga di bawah pasaran. Yakni hanya USD 31 sen. Mestinya, menurut sumber, nilai mesti dibayar adalah sekitar USD 44 sen hingga USD 46 sen. Apalagi, surat utang dijual itu lebih dari 50 persen diterbitkan perusahaan minyak dan gas Venezuela, PDVSA. Utang-utang itu bakal jatuh tempo pada Oktober 2022, dengan bunganya mencapai 40 persen.Langkah Goldman mengundang protes. Sekitar selusin orang di New York, Amerika Serikat, menggelar unjuk rasa pembelian obligasi pemerintah Venezuela dan menyatakan Goldman ikut membiayai rezim Maduro yang menindas."Dengan membeli obligasi itu sama saja membiayai pelanggar HAM. Mereka mendukung kejahatan dan membiarkan Maduro bisa berkuasa dan membunuhi rakyatnya," kata seorang demonstran, Eduardo Lugo (23).Protes serupa juga bakal digelar di Miami, Florida, dilakukan oleh warga Venezuela yang mengungsi. Kerusuhan di Venezuela telah berlangsung selama dua bulan, dan menelan 60 korban jiwa. Para demonstran meminta Maduro melakukan percepatan pemilihan umum. Maduro justru menuding para pengunjuk rasa cuma ingin menggulingkannya dan menyatakan krisis ekonomi justru karena ulah Amerika Serikat.

Rekomendasi