Nasib Fathi Bayoudh berakhir tragis. Pria asal Tunisia itu termasuk dalam daftar 41 korban tewas serangan teror di Bandar Udara Internasional Attaturk, Istambul, pada Rabu (29/6) lalu.
Bayoudh, dokter militer Angkatan Darat Tunisia, pergi ke Turki demi membujuk anak lelakinya pulang. Sang anak, berusia 30 tahun, pada 2014 minggat dari rumah. Beberapa bulan usai menghilang, dia mengabari ibunya sudah bergabung dengan jaringan militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Dia minta tak usah lagi dicari serta bercerita jika telah menikahi sesama militan perempuan asal Tunisia.
Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Bayoudh tidak terima anaknya menjadi teroris. Segala cara dia gunakan untuk menghubungi sang putra semata wayangnya. Baru awal tahun ini, Bayoudh mendapat akses mengontak anaknya.
Sang anak, yang tidak diungkap identitasnya, ternyata ditangkap oleh aparat keamanan Turki di perbatasan Suriah. Dengan jaminan tertentu, anak Bayoudh boleh dipulangkan ke Tunisia tapi harus menjalani hukuman penjara. Di negaranya Bayoudh terhitung pejabat militer disegani.
"Bayoudh memanfaatkan posisinya sebagai personel militer Tunisia untuk melobi pembebasan anaknya," kata sumber Al Arabiya.
Diperkirakan itulah alasan Bayoudh berada di bandara istambul saat kejadian. Seandainya berjalan lancar, sebetulnya Bayoudh pekan ini bisa menjemput putranya kembali ke Tunisia untuk menjalani hukuman.
Dari 41 korban tewas, 13 di antaranya adalah warga negara asing asal Arab Saudi, China, Yordania, Tunisia, Iran, Uzbekistan, serta Ukraina. Sebanyak 109 orang korban luka masih dirawat di rumah sakit karena kondisinya sempat kritis.
Pelaku terdiri dari tiga lelaki yang menembaki orang-orang di Terminal Keberangkatan internasional Bandara Attaturk. Semua pelaku meledakkan diri berurutan. Pemerintah Turki menuding para pelaku adalah bagian dari jaringan ISIS.