Sudah lebih dari setahun kehidupan beranjak normal di Ibu Kota Damaskus, Suriah. Konflik yang meletus pada Maret 2011 silam dan kini masih berlangsung, memang sempat mampir di beberapa tempat di Damaskus. Tapi kini roda kehidupan sudah berjalan seperti biasa, meski tidak sepenuhnya pulih seperti sediakala.Menyusuri jalanan Damaskus di tengah konflik, orang pasti tidak akan luput dari pos pemeriksaan, terutama bagi mereka yang berkendara. Di setiap pos pemeriksaan, selalu terlihat dua atau tiga tentara loreng berjaga sambil menenteng bedil menyetop setiap kendaraan yang akan lewat. Ciri khas tiap pos pemeriksaan adalah barikade beton yang diberi cat warna bendera Suriah: merah putih hitam dengan dua bintang berwarna hijau di bagian yang putih.Anas Samiya, staf Kementerian Penerangan Suriah yang selalu mengantar kami berkeliling Damaskus melarang mengambil foto di tiap pos pemeriksaan."Tolong, jangan difoto, saya mohon," kata dia saat mengantar kami awal pekan lalu. Bukan hanya pos pemeriksaan yang tidak boleh diambil gambarnya, bangunan gedung pemerintahan seperti Kementerian Penerangan, Kementerian Pertahanan, kantor polisi atau yang lainnya sangat dilarang untuk difoto, kecuali ada izin. Anas beberapa kali menunjukkan wajah tegas serius sambil berulang kali mengucapkan kata 'mohon' ketika kami masih saja berusaha menjepretkan kamera ke arah gedung pemerintahan.
pos pemeriksaan di Damaskus ©2016 Merdeka.com/pandasuryaMemotret tentara Suriah? Tak usah lagi ditanya. Pos dan gedungnya saja tidak boleh, apalagi tentaranya. Apa mau dikata, saya yang selalu duduk di kursi mobil paling belakang berusaha curi-curi menjepretkan kamera ponsel tanpa suara. Soalnya kamera SLR pasti bersuara.Dengan banyaknya pos pemeriksaan, tidak heran kalau terjadi antrean kendaraan di beberapa ruas jalan. Di Jakarta ada macet karena terlalu banyak kendaraan, di Damaskus macet karena banyak pos pemeriksaan.Saat ditanya ada berapa titik pos pemeriksaan di seluruh Damaskus, Anas tersenyum sambil mengangkat bahu."Saya sendiri tidak tahu. Barangkali ada ribuan," jawab pria berambut gondrong putih itu.Kami selalu berkeliling diantar staf KBRI dan Anas dengan mobil berplat kedutaan. Di tiap pos pemeriksaan, petugas KBRI hanya perlu menyapa dan memberi salam karena khusus tiap kendaran diplomatik tidak akan diperiksa seketat mobil sipil.Terkadang staf KBRI hanya perlu mengatakan dalam bahasa Arab 'safaro Indonesia' sambil tersenyum dan tentara itu langsung mengangguk memberi jalan. Kalimat yang diucapkannya berarti 'kedutaan Indonesia'.Nama Indonesia cukup dikenal oleh warga Suriah sebagai negara sahabat. Di saat negara lain berbondong-bondong memilih lari menutup kantor kedutaan karena kondisi perang, Indonesia masih bertahan membuka kantor kedutaan dan menugaskan kepala perwakilan sekelas duta besar di Suriah. Mungkin tak banyak orang tahu, Suriah juga adalah negara kedua setelah Mesir yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Maka tak heran tiap kali ada orang Suriah bertanya kami berasal dari mana, mereka langsung tersenyum ramah mendengar kata 'Indonesia'.***Jalanan Damaskus memang tidak seramai dan sesumpek Jakarta. Kota ini dilingkupi bukit-bukit yang dipenuhi rumah dan bangunan. Hawa Damaskus cukup dingin meski matahari bersinar terik. Hal ini membuat orang tidak berkeringat meski melakukan banyak aktivitas di luar ruangan. Suhu udara di saat musim semi ini berkisar 17-21 derajat Celcius.
salah satu sudut kota Damaskus ©2016 Merdeka.com/pandasurya
Berbeda dengan di Indonesia, mobil-mobil di Suriah setirnya ada di sebelah kiri. Artinya
Advertisement
Advertisement
kendaraan melaju di jalur sebelah kanan. Jalur kiri untuk mendahului. Selain taksi rombeng berwarna kuning, di jalanan Damaskus berseliweran mobil-mobil buatan Jepang, Korea, dan Eropa. Beberapa ruas jalan utama Damaskus cukup lebar. Di sini tak dikenal istilah 'ngebut bisa bikin benjut'. Para pengemudi di sini sering memacu mobilnya kencang-kencang.Sepeda motor tidak banyak di Damaskus. Bahkan boleh dibilang jarang. Motor yang ada pun rata-rata sudah butut. Hanya tentara atau polisi yang boleh mengendarai sepeda motor. Dan parahnya, mereka tidak memakai helm. Entah apakah karena tentara, sepertinya mereka tidak khawatir kepalanya bakal bocor jika menghantam aspal jalan.
Ada satu lagi yang tidak mungkin luput dari pandangan mata selama menyusuri jalanan Damaskus: foto Presiden Basyar al-Assad.Hampir di tiap ruas jalan atau dinding tembok di mana pun, termasuk pertokoan dan pos pemeriksaan, selalu ada gambar Assad. Baik dalam bentuk foto atau lukisan, wajah Assad selalu tampil menghiasi wajah kota dalam berbagai pose, kadang memakai jas rapi, kadang memakai pakaian militer berkaca mata hitam.Sosok Assad, sama seperti rata-rata di kultur negara Arab, ibarat tokoh yang dikultuskan, selalu dielu-elukan hingga dalam bentuk foto atau lukisan, dari yang berukuran kecil selebar kertas A4, kertas koran, hingga yang berukuran lebih besar.
poster Assad ©2016 Merdeka.com/pandasurya***Di tengah konflik yang belum berkesudahan, Damaskus masih bertahan. Warga menjalani kehidupan seolah tidak terjadi perang. Mungkin seperti itulah cara terbaik menjalani kehidupan di tengah kecamuk perang: bersikap apa adanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Sebelum perang, Suriah memasok listrik hingga ke negara tetangga seperti Yordania. Tapi kemudian krisis datang tanpa bisa diadang. Kini warga Damaskus dan sejumlah kota lain di Suriah harus bergiliran merasakan listrik padam saban malam selama 3-4 jam.