Penembakan terekam kamera, hakim sebut tentara Israel sulit dituntut

Pengadilan Militer berdalih tindakan prajurit itu menembak kepala warga Palestina yang terluka dipicu kerusuhan

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Penembakan terekam kamera, hakim sebut tentara Israel sulit dituntut
Penembakan tanpa alasan tentara Israel terhadap Abdel Fattah di Tepi Barat. ©2016 AFP/Hazem Bader

Hakim di Pengadilan Militer Bar-Lev, Israel, kemarin menyatakan bukti bagi tuntutan jaksa atas kasus penembakan maut seorang warga Palestina oleh tentara Zionis masih belum memadai. Di luar pengadilan, pendukung prajurit berusia 19 itu menggelar unjuk rasa agar dia dibebaskan karena sedang menjalankan tugas negara.

Stasiun televisi Aljazeera melaporkan, Rabu (30/3), tentara muda itu menembak mati Abdel al-Fattah (21) yang terlibat unjuk rasa di Tepi Barat pekan lalu. Di tengah kericuhan, selepas tentara Israel membubarkan paksa kerumunan, Fattah tiba-tiba ditembak tepat di kepala. Peristiwa itu direkam oleh banyak ponsel warga Palestina di sekitar lokasi.

Tentara Israel berdalih Fattah lebih dulu berusaha menyerang memakai pisau. Dalam video warga, nampak Fattah beberapa lama berbaring di jalan raya selama beberapa menit, kemudian si tentara muda itu dengan dingin menghabisinya.

Selain Fattah, pemuda lain bernama Ramzi Aziz al-Qasrawi juga ditembak mati. "Saya yakin penembakan itu disengaja dengan atau tanpa kericuhan," kata Abu Shamsyeh, warga setempat yang merekam penembakan kontroversial ini.

Rekaman tindakan keji tentara Israel menembak sipil di Tepi Barat (c) 2016 Aljazeera

Dewan Keamanan PBB telah mengecam tindakan tentara Israel itu sebagai pelanggaran hukum perang, serta "sadis, tak bermoral, dan tak mengedepankan rasa keadilan."

Sesuai hukum militer Israel, identitas dan keberadaan prajurit 19 tahun itu dirahasiakan. Hakim Letkol Ronen Shor menyatakan belum jelas apa kesalahan sang tentara yang menembak kepala Fattah. "Suasana sebelum penembakan sangat ricuh, sehingga banyak alasan untuk menembak," kata Shor.

Kelompok sayap kanan Israel menuntut prajurit itu dibebaskan. Keluarga sang tentara memperoleh dukungan langsung dari politikus ekstrem, Avigdor Lieberman. "Saya lebih suka tentara Israel melakukan kesalahan daripada tentara yang keliru saat bertugas, lalu membuka ruang terjadinya terorisme," kata mantan menlu Israel itu.

Jaksa penuntut di pengadilan militer itu, Letnan Kolonal Adoram Rigler, tetap meyakini sang prajurit muda sudah melakukan kesalahan. Para peserta unjuk rasa, termasuk Fattah, sudah diperiksa. Tidak ada yang memiliki senjata atau membawa bahan peledak.

"Penembakan itu dalam penyelidikan kami disengaja tapi tanpa motif," kata Rigler.

Kekerasan di sekitar Tepi Barat terus meningkat selama enam bulan terakhir. Setidaknya ada 206 warga Palestina terbunuh, nyaris semua dengan tuduhan hendak melakukan penusukan terhadap tentara Zionis.

Rekomendasi