Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersiap membangun rumah sakit darurat di dua kota. Satu opsi di Satunggal, satu lagi adalah Kota Baktaphur. Sejauh ini, pemerintah sangat berharap otoritas Nepal mengizinkan tim membuka layanan di Satungal.
Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjungan Tambunan mengatakan warga Satungal sangat butuh bantuan medis. Ada 251 warga luka-luka, semuanya belum tertangani tindakan medis. Secara khusus ada 52 pasien patah tulang, yang sesuai dengan kemampuan tim Indonesia yang membawa dokter bedah serta ahli ortopedi.
"Mereka belum tertangani serius. (Rencana membuka RS darurat) sementara dimatangkan dengan pemerintah Nepal," kata Tambunan di Kathmandu, Senin (4/5).
BNPB mengklaim pihaknya sudah siap bila harus mengembangkan layanan yang tidak lagi berorientasi penanganan patah tulang. Tim dari Indonesia diarahkan untuk sekaligus menangani trauma dan layanan kesehatan dasar.
Sejauh ini, tim kesehatan Indonesia sementara ditempatkan di Rumah Sakit Kantipur. Pasien yang ditangani, kata Tambunan, mencapai 10 orang.
"Kebutuhan obat-obatan dan bius, masih ada ketersediaan 5-6 hari. jika status pasien berkisar 9-10 orang."
Tim BNPB bertugas lebih lama dibanding perwakilan TN AU dan Kementerian Luar Negeri. Rencana awal, tim bertahan di Nepal hingga 21 Mei. Tapi Tambunan menilai ada kemungkinan tugas mereka lebih panjang atas permintaan pemerintah Nepal.
"Soal ini nanti 14 hari kedua, 14 hari ketiga, melihat perkembangan tadi," ungkapnya.
Selain bantuan medis, BNPB sudah mengirim bantuan kemanusiaan ke banyak lokasi. Salah satunya adalah pemberian dua tenda sekolah darurat di Distrik Balaju.