Tim udara TNI mendarat, belum terlihat tanda WNI hilang di Nepal

Tim udara ini melakukan pencarian ke tiga lokasi, yakni Kyanjin Gompa, Dhunce, dan taman nasional Langtang.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Tim udara TNI mendarat, belum terlihat tanda WNI hilang di Nepal
Base camp Gunung Everest pasca gempa Nepal. ©AFP PHOTO/Roberto SCHMIDT

Helikopter yang disewa pemerintah Indonesia, hari ini, Minggu (3/5) telah kembali mendarat di Bandar Udara Tribhuvan, Kathmandu, Nepal, pada pukul 09.20 waktu setempat. Sejauh ini, belum terlihat indikasi visual keberadaan tiga WNI asal Bandung, Jawa Barat, yang hilang sejak gempa terjadi pada 25 April lalu.

Tim udara ini melakukan pencarian ke tiga lokasi, yakni Kyanjin Gompa, Dhunce, dan taman nasional Langtang. Helikopter itu berangkat dari Ibu Kota Nepal pada pukul 06.30. Perjalanan ke lokasi butuh waktu satu jam.

Pada saat pendaratan, Benjamin Setiabudi dari perwakilan Taruna Hiking Club (THC) menyatakan helikopter sempat turun di kawasan Dhunce, yang berada 3.300 meter di atas permukaan laut.

Dari temuan militer dan tim SAR setempat, ada korban tewas akibat longsor batu ketika gempa, terdiri dari 37 warga lokal dan 3 warga asing.

"Sejauh ini belum ada tanda-tanda korban dari WNI," ujarnya.

THC adalah kelompok yang menaungi Alma Parahita (31), Kadek Andana (26), dan Jeroen Hehuwat (36) yang dua pekan lalu mendaki di kawasan Langtang.

Selain mengabarkan ciri-ciri tiga rekan mereka, Benjamin sekaligus mengambil bongkahan batu dan sarung tangan pendakian di lokasi berupa tebing curam tersebut.

"Ini akan kami uji, tim kami ada yang geolog. Sehingga bisa dipelajari," kata Benjamin.

Helikopter itu diawaki pilot lokal dari perusahaan Sheer Airlines. Perwakilan pemerintah menjadi tim pencari udara adalah Letkol (Pnb) Indan Gilang, Kapten Santoso, Kapten Ario Suseno (semua dari TNI AU), Benjamin, serta Sabda Thian (perwakilan kemlu).

Rekomendasi