Anggota parlemen Israel akan memilih pengganti Presiden Shimon Peres pada 10 Juni mendatang. Ini seperti dikatakan juru bicara parlemen Negeri Yahudi itu, Yuli Edelstein, kepada wartawan kemarin.
Pengumuman dari Edelstein ini menandai perlombaan awal resmi untuk posisi presiden, yang telah diemban Peres sejak 2007, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Senin (19/5).
"Para calon harus menerima dukungan dari setidaknya sepuluh anggota parlemen lainnya dan secara resmi menyampaikan permintaan secara tertulis kepada juru bicara parlemen pada 27 Mei," kata Edelstein.
Di Israel, jabatan presiden hanyalah seremonial, sementara kekuasaan eksekutif berada di tangan perdana menteri.
Peres akan mengundurkan diri pada akhir Juli, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-91 tahun, menyusul karir politiknya sudah mencakup hampir tujuh dekade.
Pengumuman Edelstein ini datang setelah berbulan-bulan lobi tidak resmi yang kuat dengan calon kandidat, di antaranya Menteri Energi Silvan Shalom yang pada Maret lalu telah diinterogasi oleh polisi atas tuduhan penyerangan seksual 15 tahun lalu.
Awal bulan ini, jaksa agung membatalkan penyelidikan terhadap dia, dengan mengutip undang-undang pembatasan.
Shalom, anggota partai sayap kanan Likud yang berkuasa, belum mengumumkan apakah dia masih akan mencalonkan diri untuk posisi itu.
Calon presiden lainnya adalah anggota parlemen veteran dari Partai Buruh, Benjamin Ben Eliezer, yang telah memegang beberapa portofolio menteri dan telah diakui dukungan yang diperlukan dari sesama anggota parlemen.
Setelah beberapa bulan pertikaian dan pengumpatan atas bakal calon, Edelstein menyatakan agar pelaksanaan kampanye yang bersih, di mana salah satunya menghormati kepresidenan, menghormati Knesset (parlemen Israel), dan yang akan memungkinkan semua orang setelah pemilu untuk menghormati pria atau wanita yang dipilih.
Mantan Presiden Moshe Katsav memulai hukuman penjaranya selama tujuh tahun pada Desember 2011 setelah dinyatakan bersalah atas dua tuduhan perkosaan dan kejahatan seksual lainnya.