Di Donetsk dan di kota-kota sebelah timur Ukraina lainnya, yang sebagian besar warganya berbahasa Rusia, terlihat ada ketidakpuasan yang nyata terhadap pemerintahan baru di Kiev, yang telah berkuasa sejak Presiden Viktor Yanukovych melarikan diri saat protes jalanan memuncak.
Namun demikian, wilayah ini tidak terlalu pro-Rusia dibandingkan Krimea, dan para pengamat mengatakan Rusia akan menemukan kesulitan dan lebih rumit untuk menerjunkan pasukan ke sana, seperti dilansir surat kabar the Guardian, Selasa (8/4).
Di Donetsk dua hari lalu, pusat administrasi regional dikelilingi dengan ban dan kawat berduri sementara bendera Rusia berkibar. Di Lugansk, sebuah kota di sebelah timur lainnya, para pegiat telah menyita bangunan milik layanan keamanan.
Di Kharkov, dua aksi protes, satu di antaranya mendukung kesatuan Ukraina dan lainnya kelompok pro- Rusia, terlibat bentrok di sepanjang garis polisi pada sore hari.
Para pengunjuk rasa diyakini dilakukan oleh sebuah kelompok minoritas kecil di setiap kota. Namun demikian, Rusia mengeluhkan bahwa bagian timur dan selatan Ukraina tidak diberikan suara dalam pemerintahan baru yang telah dikumandangkan oleh beberapa orang di Kiev sendiri.
Mustafa Nayem, seorang wartawan yang juga salah seorang penghasut protes yang mengarah ke penggulingan Viktor Yanukovych, mengeluh bahwa pemerintahan baru tidak melakukan cukup tindakan untuk meyakinkan wilayah di timur.
"Sejak Viktor Yanukovych melarikan diri, lebih dari sebulan lalu, dan sejak saat itu tidak ada satupun pemimpin dari pemerintahan baru telah mewakilkan Donetsk, Kharkov atau Lugansk. Tidak jelas siapa yang mewakili kepentingan orang-orang di daerah ini pada tingkat nasional," tulis Nayem di laman Facebook pada Ahad lalu.
Dia mengatakan pemerintah harus mengadakan rapat kabinet di bagian timur, mengunjungi elit lokal dan melibatkan mereka dalam membuat keputusan, daripada duduk-duduk di Kiev seperti pengecut.
Dua hari lalu, mantan Perdana Menteri Ukraina Yulia Tymoshenko, yang turut bertarung dalam pemilihan presiden yang direncanakan digelar pada 25 Mei mendatang terbang ke Donetsk untuk konsultasi.
Ukraina telah terguncang akibat kehilangan wilayah semenanjung Krimea ke tangan Rusia, di mana ada laporan di pagi hari bahwa seorang perwira tentara Ukraina telah ditembak mati oleh seorang tentara Rusia.
Rusia sekarang memiliki kontrol penuh atas wilayah itu, dan Kementerian Sumber Daya Alam Ukraina memperkirakan bahwa negaranya telah kehilangan Rp 121,9 triliun (10 miliar dollar Amerika) dari sumber daya alam dan aset lainnya akibat pencaplokan itu.